Sabtu, 20 Juni 2015

Kakak Takmir dan Kakak Pendaki, Ngopi-lah dulu

sumber gambar: travel.detik.com



Apalagi ini?!
Bisa tidak sih, menanggapi kritikan dengan stel kendo / slow kayak ibu-ibu mau masukin benang ke dalam lubang jarum. Kedua masalah dipegang dengan erat, namun untuk menyatukannya penuh dengan kehati-hatian tingkat dewa sambil memincingkan mata.
Buat apa juga kakak takmir masjid nyinyirin kakak-kakak pendaki. Statment yang terkesan menuduh para kakak Pendaki kalau sedang menapaki jalan tanjakan dan turunan di gunung pastilah tidak pernah sholat di masjid itu memang nylekit. Ngejleb. Dan nge-nge lainnya.
Haloo!!
Kalian yang udah mendaki gunung beribu-ribu Mdpl. Dapat salam dari Masjid sebelah rumah nih. Udah sering sholat di sana?
Itu memang sebuah kalimat yang bisa dibilang nasehat. Kita tidak boleh memandang bahwa itu salah mutlak juga bukan? Ngono yo ngono ning ojo ngono.

Jumat, 19 Juni 2015

[ESAI] CANDRA MALIK - MUMPUNG RAMADHAN



Sujiwo Tejo seolah menggugat: apa enaknya berpuasa bareng-bareng? "Aku berpuasa, kau, dan dia, juga mereka, pun kalian, kita semua berpuasa pada hari dan bulan yang sama," ujarnya. Yang Sujiwo Tejo maksud adalah berpuasa di Bulan Suci Ramadhan. Lalu, yang semakin tidak ia mengerti, orang-orang bangun dan makan sahur pada jam-jam yang nyaris serentak. Dan lebih absurd lagi, Tejo bilang: lalu kita mengadakan acara berbuka puasa bersama.

"Aku lebih suka berpuasa seorang diri. Orang-orang tetap makan dan minum, dan aku tidak. Bahkan, ketika itu aku berada di antara mereka. Ini puasa yang asyik," kata dalang yang juga pemain saksofon dan komposer itu, dalam majelis Suluk Maleman di Rumah Adab Mulia Indonesia, di Pati, Jawa Tengah, 13 Juni malam lalu. Baginya, dan bagi orang-orang yang merasakan hal yang sama, Bulan Suci Ramadhan justru menjelma bulan makan-minum teratur. Bulan konsumtif, bulan ketika grafik inflasi meningkat hingga lebaran.

Rabu, 17 Juni 2015

Dewasa Kelas Pemula

Sumber gambar: kaskus.co.id


Betapa banyak orang yang sudah berumur 16 tahun keatas yang menurut undang-undang sudah dikatakan “dewasa” masih berperilaku seperti halnya anak kecil yang masih duduk di bangku playgroup.
Anak kecil biasanya senang saat diberi permen yang bentuknya menggiurkan lidah, penuh warna-warna, tanpa pernah peduli jika permen itu ternyata beracun. Padahal orang tuanya sudah memberitahu bahwa permen itu hanya nampak luar saja yang indah. Dalamnya berisi racun, narkoba, sabu-sabu dan seabrek bahan berbahaya yang bisa saja sekali tenggak nyawa melayang.
Lha piye, namanya juga anak kecil. Dikatakan belum dewasa, karena cara berpikirnya terlalu sempit. Yang hanya melihat apa yang tampak di depan mata. Celaka belakangan urusannya belakangan.
Contoh lain, generasi muda kita, terutama anak SMA yang sekarang sepertinya anak SMP juga sudah mulai berani merayakan kelulusan dengan corat-coret baju, pesta miras dan sabu. Malahan, pada bulan April yang lalu, sebuah EO mau mengadakan sebuah “pesta bikini” untuk merayakan kelulusan SMA. Alamak, makin gila jaman ini. Tanpa peduli efek buruk yang akan ditimbulkan kemudian hari. Karena ya, itu tadi, cara berpikirnya terlalu sempit. Yang hanya melihat apa yang tampak di depan mata.

Jejaring Sosial Mah Gitu


Di era digital ini siapa yang tak kenal dengan facebook? Jejaring sosial yang diluncurkan pada bulan Februari 2004. Pada September 2012, Facebook memiliki lebih dari satu miliar pengguna aktif, lebih dari separuhnya menggunakan telepon genggam.
Facebook didirikan oleh Mark Zuckerberg bersama teman sekamarnya dan sesama mahasiswa Universitas Harvard, Eduardo Saverin, Andrew McCollum, Dustin Moskovitz dan Chris Hughes.
Penggunanya pun dari berbagai kalangan. Dari anak yang masih ingusan, remaja, dewasa, sampai kakek nenek pun ada. Seperti menurut survei Consumer Reports bulan Mei 2011, ada 7,5 juta anak di bawah usia 13 tahun yang memiliki akun Facebook dan 5 juta lainnya di bawah 10 tahun, sehingga melanggar persyaratan layanan situs ini.

Selasa, 09 Juni 2015

Memasak? Di Dapur Saja


Sebenarnya malam ini saya ingin cepat-cepat mancal kemul dan langsung tidur. Namun karena saya sudah janji kepada khalayak umum, bahwa saya akan melanjutkan tulisan saya di status facebook.
Oke cekidot...
Ketika merasa kecewa dengan pasanganmu mbok yo kalau bisa jangan dishare di sosmed. Entah itu facebook, twitter, blog, WA, BBM, dan segala hal yang ketika kau menuliskan sesuatu akan banyak orang yang tahu, itu sosmed.
“Jangan Memasak Di Ruang Tamu”
Mungkin itu kiasan yang tepat, guna menjelaskan tentang hal ini.
Sekarang bayangkan, ruang tamu, sebuah tempat yang dilihat pertama kali oleh orang banyak, sebagian bahkan orang asing yang sekadar singgah ke rumah kita. Lantaran semestinya urusan masak-memasak dilakukan di dapur, bukan di ruang tamu, sebagai kegiatan pribad bukan kegiatan publik, maka wajar sajalah bila kemudian muncrat berbagai hal negatif itu. So, meletakkan sesuatu tidak pada pada letak semestinya amat sangat berpeluang untuk menghadirkan masalah-masalah buruk. Masalah-masalah yang niscaya takkan pernah terjadi dan meluas kemana-mana, menyebar ke ruang luas bernama ruang tamu, ruang publik, umpama kita mampu membedakan mana letak yang pas untuk memasak dan mana yang bukan.

Senin, 18 Mei 2015

Gerutu Doa



Ya Allah, dia gadis yang baik. Jadikan dia kekasih-Mu, tanamkan berjuta benih cinta dihatinya kepada-Mu, agar setiap gerak dan langkahnya dapat meniru utusan-Mu yang teragung, Nabi Muhammad SAW. Hingga terbimbimlah semua apa yang akan dia lakukan dan katakan. Kalau bukan kepada-Mu wahai Dzat yang Maha Pengasih, kepada siapa lagi hamba merintihkan ketidakmampuan hamba ini.
Bentang garis kehidupan ini telah nyaris sempurna dilalui olehnya. Suka dan duka rasa-rasanya telah dia lahap dengan ketangguhan jiwa yang luar biasa. Sebagai seorang laki-laki diriku telah dikalahkan telah oleh dirinya. Semangat untuk menjadi seorang “Khadijah” jelas tergambar dari sorot matanya yang teduh, senyumnya yang menentramkan jiwa, dan lembut caranya menyentuh.

Senin, 04 Mei 2015

BERKIRIM-KIRIMAN SURAT




BERKIRIM-KIRIMAN SURAT
Tenggelamnya Kapal van der Wijck (BUYA HAMKA)

Surat yang Ketiga
Sahabatku Hayati!
Sebagai kukatakan dahulu, lebih bebas saya menutis surat dari pada berkata-kata dengan engkau.
Saya lebih pandai meratap dalam surat, menyesal dalam surat, mengupat dalam surat. Karena bilamana saya bertemu dengan engkau, maka matamu yangsebagai bintang Timur itu senantiasa menghilangkan susun kataku.
Sebelum bertemu, banyak yang teringat, setelah bertemu semuanya hilang, karena kegembiraan pertemuan itu telah menutupi akan segala ingatan.
Inilah suratku yang ketiga. Dan alangkah beruntungnya peraaan hatiku jika beroleh balasan, padahal sepucuk pun belum pernah engkau balas. Tahu saya apa jadi sebabnya Bukan lantaran engkau tak dapat mengarang surat.

Cerita Penulasan Hutang

Di malam ini. Bukan. Bukan hanya malam ini. Namun setiap malam. Sepanjang malam. Setiap tulisanmu selalu aku menungguinya. Kutunggui dengan penuh sabar seperti aku setiap harinya menunggui ampas kopi untuk mengendap. Meski setiap kali menengok ke blog atau twitter aku harus kembali termenung dengan sedikit merasa kecewa, karena tiada tulisan yang baru. Kalaupun ada tiada cerita yang menjadi penenang gemuruh rinduku.
Tapi adanya bingkai senyummu selalu berhasil menampik segala kekecewaan. Menginjak segala keraguan. Namun tidak untuk mengusir gemuruh rindu yang meronta hebat. Yang sedikit pun tiada berbelas kasihan kepda jiwa yang nyata-nyata lemah. Tubuh bolehlah tegap berdiri, menorehkan senyum di khalayak umum, namun jiwa tetaplah berlinang air mata.
Aku menulis ini bagaikan menggunakan tinta dari air mata, yang aku wadahi dalam pena keteguhan doa.

Sabtu, 02 Mei 2015

Lelaki Bodoh



Lelaki itu sangat mudah "berharap" kepada wanita. Sebetulnya mengarah kepada kebodohan yang tersamarkan. Terlalu ge-er lebih halusnya. Hanya dengan wanita itu sering membalas sms, chat, BBM, WA, dan seperangkat alat penghubung lainnya. Lelaki akan mengira bahwa si wanita itu tertatik padanya.
Mungkin ini akan mendapat pertentangan oleh para lelaki. Yang notabene penolaknya adalah sekumpulan lelaki yang pernah di pe-ha-pe-in sama sifatnya sendiri ini.
Yang lainnya mungkin mengangguk mengaminkan hal ini. Mungkin lho ini. Karena seluruh opini saya ini sangat tidakberhasrah untuk diseujui. Malah kadang saya berharap opini saya ini salah. Yah, namun saya hanya men-share pengalaman bodoh saya dulu. Dulu! Catat itu.

Rabu, 29 April 2015

Intropeksi Pikiran

Hari memang selalu bergerak maju, tiada cerita akan mundur kebelakang. Begitu pun umur kita ini. Sudah sepantasnya memang selalu akan bertambah.
Wajah yang dulunya mulus. Bersih. Tiada lekukkan sana sini. Perlahan namun pasti, satu demi satu lekukan itu akan muncul seiringan dengan bertambahnya usia.
Mungkin, yang pasti, setiap lekukkan yang muncul itu adalah sebuah torehan pengalaman yang berharga. Yang memberi pengetahuan, ilmu dan juga rasa dalam menjalani kehidupan ini. Yang membentuk diri kita saat ini.

Kamis, 23 April 2015

Gerutu Singkat



Hanya secangkir kopi yang menemaniku menyusuri malam yang begitu kelam ini. Hah. Betapa tidak kelam coba. BBM muk contreng. Perut laper. Padahal paginya rencana mau puasa Rajab.
Bajindulnya lagi, sudah susah payah menerjang tirai hujan. Beli dua bungkus mie instan. Sudah aku persiapkan semua: sebungkus mie instan yang sudah kubuka, sebungkus lagi aku simpan untuk sahur. Aku ambil sedikit mie yang tercecer, lalu ku-klethusi sambil merajang cabe rawit, membersihkan telor, menyiapkan mangkuk.. Lalu klek! Ceklek! Ceklek! Pukimaaaaak! Gas habis! 
Dengan wajah seperti kedelai bego, mie instan aku makan metah sambil menyimpan rasa gontok. Ditambah lagi mangkelnya hati karena BBM masih saja istiqomah contreng. Munyuk!

19 April 2015

Selasa, 21 April 2015

EYANG R.M PANJI SOSROKARTONO

Eyang R.M Panji Sosrokartono



SEJARAH TENTANG EYANG R.M PANJI SOSROKARTONO, KAKAK DARI RA.KARTINI, SEORANG SUFI DARI JAWA YG SANGAT INTELEKTUAL MEMAHAMI 17 BAHASA,BELIAU JUGA YG MENYUSUN KITAB TASAWUF BERNAMA ALIF, GURU IR.SOEKARNO,GURU BANGSA



Kaum bangsawan di Belanda menjulukinya Pangeran dari Tanah Jawa. Raden Mas Panji Sosrokartono, kakak R.A. Kartini, selama 29 tahun, sejak 1897, mengembara ke Eropa. Ia bergaul dengan kalangan intelektual dan bangsawan di sana. Mahasiswa Universitas Leiden itu kemudian menjadi wartawan perang Indonesia pertama pada Perang Dunia I.
Di Indonesia, Sosrokartono mendirikan sekolah dan perpustakaan. Ia juga membuka rumah pengobatan Darussalam di Bandung. Tempo menelusuri jejak sang intelektual dan spiritualis ini dari orang-orang yang pernah bersinggungan dengan Sosrokartono, juga dari berbagai bukunya, termasuk surat- surat Kartini dan adik-adiknya, dan dari naskah pidatonya yang masih tersimpan di Leiden.
Selama 29 tahun ia hidup melanglang Eropa. Di Bandung ia mendirikan perpustakaan, rumah pengobatan, dan dicap komunis. FOTO hitam putih seukuran kartu pos itu masih ia simpan rapi. Saat itu Kartini Pudjiarto masih delapan tahun. Ia bersama ibunya RA Siti Hadiwati dan kakeknya PAA Sosro Boesono berfoto bersama RM Panji Sosrokartono di rumah pengobatan Darussalam di Jalan Pungkur 7, Bandung, milik Sosrokartono.
Sosrokartono (1877-1952) adalah adik kandung Boesono. Keduanya adalah kakak RA Kartini, pahlawan emansipasi wanita yang setiap tanggal 21 April selalu dirayakan di seluruh pelosok Indonesia. Mereka adalah anak Bupati Jepara Raden Mas Adipati Ario Samingoen Sosroningrat untuk periode 1880-1905 dari perkawinannya dengan Ngasirah. Pasangan ini memiliki delapan anak.

Sabtu, 18 April 2015

Kasih



Kasih...
Semalam diriku seperti tiada dihinggapi rasa kantuk. Mata terbelalak lebar. Hasrat ingin sedikit terpejam serasa telah sirna.
Bibirku senantiasa tersenyum sumringah. Terbayang aku seseorang yang wajahnya tak nampak dihadapanku namun hadirnya begitu terasa menggumpal di hatiku.
Setangkup bingkai wajah telah khatam aku mengenalinya. Yang setiap saat bingkai wajah ini selalu kupandangi. Ya, selalu.
Membayangkan seseorang yang aku tiada bosan mengajaknya bicara lewat telephone walau semalaman suntuk. Jika kupandangi selalu bingkai wajahnya, entah kenapa sosoknya seolah-olah nyata ada di depanku. Tepat di hadapanku. Menatap tajam matanya melesat tepat ke mataku.