Rabu, 12 Agustus 2015

Kapan Nikah?

Sebuah pertanyaan yang sungguh menghunjam hati bak lesatan anak panah dari busur pasoepati sang Arjuna. Seharusnya aku sudah lebih tenang mendengar pertanyaan itu, karena sudah terlamapau sering dilontarkan oleh orang-orang. Dan kebanyakan yang melontarkan pertanyaan itu adalah orang yang sedang tak mengalami apa yang aku alami saat ini. Mayoritas jomblo.
Namun kata hati tak mungkin bisa dibohongi. Tertekan itu pasti. Beban jiwa? Sudah jangan ditanyai lagi.

Sabar-sabar. Karena aku ingin menikah karena keinginanku sendiri, bukan karena lelah ditanyai pertanyaan model begituan. Toh saat ini aku sedang berusaha keras agar segera dapat mengantarkan kepada mereka undangan pernikahanku.
Lagipula siapa yang bisa menjamin bahwa setelah aku menikah nanti, pertanyaan orang-orang akan berhenti? Aku yakin justru sebaliknya yang terjadi. “Kapan nikah?” akan berganti menjadi macam-macam pertanyaan lainnya. Entah itu pertanyaan soal keturunan, soal rencana memiliki rumah, soal pekerjaan dan promosi. Tak ada gunanya terpaksa melakukan sesuatu hanya karena lelah ditanyai.
Haduh-haduh.

Categories:

0 komentar:

Posting Komentar