Selasa, 25 Agustus 2015

Dari Atas Tepian Waduk


Bukan apa-apa, tapi mungkin kau masih ragu menetapkan aku sebagai rindu.
Dari atas tanggul tepian waduk ini, pernah kau berucap ingin menemuiku kembali setelah lama kau jauh dari pandangan mata. Tapi tak kunjung aku temui secuil kabar, kapan pastinya kau akan datang kesini bertukar senyummu padaku.
Sudahlah, Aty. Wilayah yang sering kau sebut sunyi, sampai kini masih setia kuhuni sebagai tempat sembunyi. Sembunyi dari kejadian yang dapat mengikis hati. Tapi siapa yang sebenarnya menunggu, kau atau aku? Berangsur soal muncul; kita seteru atau sekutu?

Berkunjunglah ke ingatanmu. Kenanglah kembali kenangan yang terlewat atau terlepas dari alam pikirmu, barangkali di sana ada aku Meski kecemasan beruntun lebih dulu menguasaimu.
Biarkan udara yang merekam desah nafas dan suaramu, lalu biarkan menuju ke arahku. Jangan larang. Agar ketika sampai bisa kudengar gema isi hatimu. Untuk aku menafakurinya ketika malam menjelang. Derap jantungmu adalah sebuah susun kata yang tentunda terucap. Gaung dengungnya senantiasa timbul tanpa terdua.
Masalahnya memang jarak. Ya jarak, segala sesuatunya mudah membuat retak. Meski tak sejauh laut dan ombak, tapi betapa pun kita telak, perih telah menyentuh serempak.
Mataku terpejam, menghayati kau ketika di masa silam. Tapi yang kudapat hanya pendar menjelang kelam. Hitam pekat. Sepekat kopi yang kuseduh di setiap malam.
Siapa yang sebenarnya menunggu, kau atau aku? Setelah sekian waktu kita tak mampu saling tuju. Sejenak mendamba lupa demi merenggang dari tegang kerinduan. Selebihnya menjelma hampa, melenggang ke segenap lengang.
Dari jalan mana lagi kau akan menikung? Bila arah tempat kau melangkah ada aral mengepung? Maka diam dan biar akulah yang menjemputmu. Walau kutahu kau adalah sumber dari seluruh ngilu rindu.
Aku pernah berujar boleh bila sekadar menghindar. Agar tak sering kita terlihat melingkar tangan. Tapi bukan berarti kau musti mengekalkan tengkar. Memendam amarah tak kunjung kelar.
Lalu siapa yang sebenarnya akan membuka pintu, kau atau aku? Setelah mengira kalau sumpah telah muspra lebih dulu.
Sudahlah, Aty. Masuklah ke wilayah yang sering kausebut sunyi, sudah waktunya kau bernyanyi, dan aku sudah letih sembunyi. Dan atas tanggul tepian waduk ini, akhirnya kita bertemu. Menorehkan lagi kisah kenangan masa lalu. Menyusun rencana penuh bunga masa nanti. Pasang badan bila diantara kita kelak ada yang tersakiti, tidak akan saling pergi. Namun mengingatkan untuk saling mengerti. Saling mengisi.


25 Agustus 2015
Terimakasih untuk Gus Usman Arrumy yang telah mengajariku, "Puisi hanya bisa berencana dan usaha, cintalah akhirnya yang menentukan."

Categories:

0 komentar:

Posting Komentar