Sabtu, 22 Agustus 2015

BERGOYANG BERJAMAAH SOLUSINYA

Sumber gambar: solopos.com
Bergoyang adalah pasangan sah dan serasi untuk musik dangdut. Bagai sayur tanpa garam bila ada musik dangdut namun tiada goyang. Dari goyang ngebor sampai ngecor. Goyang patah-patah sampai goyang gergaji. Mungkin sebentar lagi akan terbit goyang toko bangunan. Entah bagaimana bentuknya itu.
Sah-sah saja. Namanya juga goyang.
Mau bokong yang digoyang atau sekedar ngubeng-ngubengne jempol, yang pasti ketika kita mendengar musik dangdut entah yang melo atau yang ngebeat tubuh kita secara otomatis akan menyambut dengan goyangan tanpa kita sadari.
Dangdut is the music of my country, demikianlah kata grup vokal Project Pop dalam salah satu judul lagunya.

Namun yang disayangkan, di era ini banyak yang memandang sebelah mata tentang bergoyang dalam musik dangdut. Karena melihat hal yang terjadi di masyarakat, ketika ada musik dangdut dan saat bergoyang di situ juga akan ada miras. Walau masih banyak juga yang bergoyang tanpa miras.
Karena efek miras itulah banyak yang ketika bergoyang dangdut yang ngawur, senggolan sedikit saja akan memicu munculnya perkelahian.
---oo---
Maka dari itu bergoyang berjamaah dengan seorang Imam seperti yang dipelopori oleh Temoh Holic sungguh membawa angin segar untuk mencegah munculnya perkelahian.
Sumber gambar: solopos.com
 Muchtar Setyo Wibowo alias Temon yang berasal dari Klaten pendiri dari komunitas bergoyang berjamaah Temon Holic ini. Breakdance koplo begitulah ia memberi nama gaya bergoyang yang nyentrik dan unik ini.
Ada tiga pantangan yang harus dihindari para anggota Temon Holic, yaitu mabuk saat joget, melakukan tindakan anarkis dan main perempuan. Mereka juga berkomitmen untuk tidak merokok saat bergoyang.
Larangan itu memang disesuaikan dengan visi-misi yang hendak mereka capai. Mereka mengklaim kelebihan Temon Holic adalah bergoyang secara kompak sesuai gerakan Imam.
Imam itu tak harus Temon alias Muctar Setyo Wibowo, pelopor Temon Holic. Dengan konsep itu, Imam joget bisa dilakukan bergantian. Hal itu diharapkan menumbuhkan rasa percaya diri untuk berjoget.
Temon membuat filosofi kreasi, imajinasi/inspirasi, seni atau biasa disingkat K.I.S. Ada spontanitas dalam joget yang kami lakukan,” ungkapnya.
Sumber gambar: twitter.com
 Nah, bagi yang suka dangdut dan juga serius belajar agama, bergoyang seperti ini jelas tidak akan menjadi masalah. Toh bergoyang untuk mewujudkan rasa syukur karena dikaruniai oleh Tuhan sebuah seni yang indah. Tergantung niat setiap individu, dan tentunya niat itu kan dalam hati. Dalamnya hati siapa yang tahu?
Yang terpenting jangan lupa sholat 5 waktu. Heuheu.

Sukoharjo, 22 Agustus 2015
Categories:

0 komentar:

Posting Komentar