Jumat, 07 November 2014

BANGKU TAMAN MAWAR



“Ini, tulislah apa yang terjadi ditaman ini,” ucap Mawar sambil menyodorkan sebuah buku catatan kepadaku.
“Mau kemana?” tanyaku
“Aku mau menggapai cita-citaku dinegeri seberang,” jelas Mawar
Dengan memaksa tetap mempertahankan segaris senyum dibibirku, “Semangat ya, Aku akan disini berdoa apa yang menjadi keinginanmu.”
“Iya” jawab Mawar singkat.
“Jika kamu tak kunjung puas dengan semua yang kamu inginkan, datanglah kemari, di suatu Senja Taman Mawar ini.” Tungkasku.
            “Iya, Insyaa Allah,” katamu sambil tersenyum “kita akan menulis cerita tentang suatu Senja Taman Mawar ini bersama-sama”.


----- oo -----

Musim kemarau makin ganas menerjang di Taman Mawar ini. Daun-daun yang masih berjuang bertahan di rerantingan makin sempurna menguning. Sebagian besar telah berjatuhan ke tanah. Sebagian lagi dihempaskan ke kolam, ke jalan setapak hingga berserak memenuhi nyaris sekujur tubuh Taman Mawar ini.
Di sekitar taman, orang-orang melepas jaket mereka, dan duduk di bawah pohon – pohon yang gagah berdiri. Menikmati nikmat oksigen yang dihasilkan oleh hasil fotosintesis pohon-pohon yang menaunginya. Tapi ada pula yang berjalan-jalan menggandeng pasangan mereka menyusuri setiap jengkal taman mawar tanpa terusik oleh panasnya udara hari ini.
Di bangku taman yang kering berwarna coklat, dibawah pohon dengan di kelilingi deretan bunga mawar yang tertata rapi di taman mawar ini, aku masih setia menunggumu, Mawar. Aku akan tetap setia menunggumu disini, dibawah dekapan musim kemarau, yang panasnya membuat orang malas keluar rumah, atau dibawah terpaan musim penghujan, yang airnya dihindari oleh setiap orang karena dapat menyebabkan penyakit kata para dokter, hanya ingin mendengarkan suaramu menceritakan suatu Senja Taman Mawar ini dan aku akan menuliskan semua yang terucap dari lisanmu. Ya, Mawar, aku menantikan hal itu. Cerita tentang Senja di Taman Mawar buatan kita berdua.
Kamu pasti akan datang kan, Mawar?
Kamu pasti akan datang memenuhi janjimu seratus hari yang lalu saat kita duduk bersama di bangku taman yang kering berwarna coklat, dibawah pohon dengan dikelilingi deretan bunga mawar yang tertata rapi.
Mawar pertiwi, berwarna merah jambu, dan memiliki sedikit duri. Ya, itu jenis mawar yang sangat engkau sukai dari berbagai jenis mawar yang ada di taman ini. “Warnanya sama seperti khimar yang aku pakai,” alasanmu kenapa sangat menyukai mawar jenis pertiwi.
Aku mengangguk sependapat denganmu.
Diriku selalu tersenyum dan tak menghiraukan berapa lama kali aku datang dan menantimu disini, di taman mawar ini, di bangku taman berwarna coklat, dibawah pohon dengan dikelilingi deretan bunga yang tertata rapi.
“Iya, Insyaa Allah,” katamu sambil tersenyum “kita akan menulis cerita tentang suatu Senja Taman Mawar ini bersama-sama”.
Kalimat itu selalu berhasil yang membuat aku tersenyum dan semangat. Ya, selalu berhasil, setiap saat.
Setiap menjelang senja aku selalu datang ke taman mawar ini. Sebuah taman yang di huni berbagai jenis bunga mawar, mawar talitha, megawati, pertiwi, shananda, fortuna, putri dan yang lainnya. Perbedaan warna diantara bunga mawar menjadikan indah bagi setiap pasang mata yang memandang. Hmmt, perbedaan memang indah kala saling melangkapi.
Ah, Mawar ....
----oo-----
Lalu, saat arlojiku menunjuk angka setengah tiga sore, ku langkahkan kakiku lebar – lebar. Melintasi samping bak sampak, menyapa lelaki penjaga kebun yang umurnya kurang lebih 20 tahun lebih tua dariku, yang sudah kuhapal betul kerut wajahnya telah dihajar masa dan topi hijau yang bertuliskan “Taman Mawar”. Sesekali, kuhentikan langkahku di depannya sekedar menjawab tanya yang sedari dulu tak pernah berubah. Seperti hari ini.
“Mawarmu belum datang juga?”
“Belum”
“Istiqomah betul kamu menunggunya.”
“Sebab aku yakin pasti dia akan datang memenuhi janjinya”
Ojo nglokro
“Insyaa Allah”
Kemudian aku meneruskan langkah-langkah panjang, menerjang hajaran terik panas matahari. Kutekan topiku dalam-dalam menghalau silau sinar matahari.
Bukan, Mawar! Ini bukan aku ingin segera lari dari hajaran terik matahari yang masih menyisakan udara panasnya. Bukan! Ini semata aku tak ingin melewatkan secuil jejak pun dari proses lahirnya senja di bangku taman yang kering berwarna coklat, dibawah pohon dengan dikelilingi deretan bunga mawar yang tertata rapi, yang kuyakin dari sanalah kau akan datang diam-diam dan menutup mataku dari belakang, lantas kau duduk di samping ku dan memberikan hadiah terindah, yaitu senyumanmu, Mawar.
----oo-----
Dalam hitungan kurang dari sepuluh menit, aku sudah duduk sempurna di bangku taman berwarna coklat, dibawah pohon dengan dikelilingi deretan bunga yang tertata rapi. Lalu lalang penikmat taman mawar di sekelilingku, berbagai macam aktifitas ada disini, ada yang foto-foto menciumi bunga mawar, pre-wedding, atau sekedar berjalan-jalan menyusuri setiap jengkal taman mawar menggandeng pasangan mereka atau anak-anak mereka.
Di kening langit, di ufuk barat, tepat dihadapanku, matahari telah kehilangan ganas terik panasnya. Senja telah sempurna berkunjung taman mawar ini, para penikmat taman mawar makin bertambah, menikmati senja taman mawar, namun bayang-bayang Mawar pun belum terlihat.
Kuhela nafas dalam-dalam, kuhempaskan kuat-kuat. Lampu-lampu taman mulai satu per satu menyala, menandakan senja taman mawar akan segera berakhir. Dengan punggung berat aku bangkit meningkalkan bangku taman berwarna coklat, dibawah pohon dengan dikelilingi deretan bunga yang tertata rapi. Sepasang kekasih datang kearahku, dengan sopan bertanya,
“Maaf mas, boleh saya tempati bangkunya?”
“Oh, silahkan.”
“Terima kasih.”
“Sama-sama.”
Dengan segaris senyum getir aku menyaksikan mereka sedang menikmati senja taman mawar di bangku taman berwarna coklat, dibawah pohon dengan dikelilingi deretan bunga yang tertata rapi, favoritku, eh bukan, favorit kita, Mawar. 

---- oo -----
Kulangkahkan kaki perlahan menuju tengah taman mawar, yang disana terdapat patung bunga mawar raksasa berwarna merah, dengan tinggi kurang lebih 5 meter. Di tengah taman mawar ini adalah tempat kau memilih bangku itu, Mawar, yang menjadi tempat favorit kita saat ini.
Ah, kenangan.
Kuamati sekeliling taman mawar, yang kebetulan tengah taman mawar ini tempatnya lebih tinggi. Kubidik DSLR menuju setiap sudut taman mawar yang masih diselimuti orange sempurna senja.
Kusimak pelan-pelan hasil jepretanku. Satu. Dua. Tiga. Empat.
Tepat foto ke sepuluh, kuamati dalam dalam sesosok tubuh dengan balutan jilbab dan khimar merah muda seperti merah mudanya bunga mawar pertiwi. Mataku begitu mencengkram sosok tubuh itu, yang tak asing lagi bagiku. Duduk sendiri di sebelah kanan sekitar 10 meter dari bangkuku tadi. sambil menatap lurus ke arah deretan bunga mawar yang tertata rapi, memagut dagu.
Kamukah itu Mawar?
Kusimak lagi dan lagi foto sesosok tubuh wanita itu, wajahnya yang terhalangi khimar yang dibentuk hijab segi empat. Bahasa tubuhnya berbicara bahwa dia sedang menunggu seseorang.
Sekelibat senyum manis, terlihat. Ya, pasti itu Mawar, senyum itu, aku kenal betul segaris senyum simpul itu.
Kukalungkan DSLR, lantas melangkah perlahan mengamatinya sedekat mungkin. Baru langkah ke lima, aku terhenti. Seorang lelaki lebih dulu menghampirimu, mencium pipimu dari belakang. Begitu mesra, lantas duduk disampingmu. Seperti lelah membawa kepalamu, kau sandarkan dipundak lelaki itu. Angin senja berhembus membelai sekujur tubuhku, mendadak lemas, seluruh otot-otot dalam tubuhku seperti dipotong secara mendadak, kaki tak kuat menopang lagi tubuh ini, lalu bersimpuh dan tertunduk.
“Mawar, apa kau lupa akan janjimu dulu?” gumamku dalam hati, dengan menahan gemuruh badai dalam dada “apa kata ‘bersama’ itu lelaki itu bukan aku?
Para peneliti menemukan bahwa jatuh cinta hanya membutuhkan waktu sekitar seperlima detik. Mencintaimu memang bisa secepat itu, tp melupakanmu...?
Apa doaku pada Tuhan setiap malam agar aku tetap setia menunggumu di bangku taman berwarna coklat, dibawah pohon dengan dikelilingi deretan bunga yang tertata rapi serta berdoa agar hatimu tetap teringat akan janji-janimu tak berguna? Tidak, Tuhak tidak pernah mengecewakan hambanya yang telah berdoa. Kata para kyai, “bila kau seolah tak tertolong oleh doa-doa yang kau lantunkan kepada Tuhanmu, cukuplah doa itu menjadikan tenang hatimu. Karena kau Tuhan dekat kepadaNya”
Aku kembali tersenyum, lalu bangkit dan melangkah gontai menuju pintu keluar taman mawar, “terima kasih Mawar, telah mengajarkan cara mencintai yang baik, yang menuntun kepada kesetiaan.”
Tapi kesukaanku menanti senja di bangku taman berwarna coklat, dibawah pohon dengan dikelilingi deretan bunga yang tertata rapi akan terus berlanjut, mengais seluruh kenangan yang telah terprastasikan sempurna bangku taman berwarna coklat, dibawah pohon dengan dikelilingi deretan bunga yang tertata rapi. Aku percaya dan yakin, rencana Tuhan lebih baik daripda rencan setiap insan manusia. Ya, sangat yakin akan hal itu.
Dering bunyi handphone memberhentikan langkahku sejenak, sebuah massage masuk dari nomor asing, “Hey, akhir bulan ini aku pulang, tunggu aku di bangku taman berwarna coklat, dibawah pohon dengan dikelilingi deretan bunga yang tertata rapi. Sisakan beberapa lembar dibuku catatan itu, aku akan mengisinya. Mawar”
Alhamdulillah


Adziz bin Gino  
Sukoharjo, 06 – 07 November 2014
Categories:

0 komentar:

Posting Komentar