Kamis, 21 Januari 2016

TAKDIR MEMANG TAK PASTI



“Takdir memang tidak pasti, karena Tuhan berhak mengotak-atiknya. Namun kita diberi akal dan kekuatan untuk terus berusaha. Sebelum Tuhan memerintahkan untuk pulang, tiada waktu untuk berpangku tangan.”
@IbnGino

Di dunia ini memang tempatnya ketidakpastian. Ada kalanya memang semua yang kita harapkan tiba-tiba berubah saat waktu berjalan. Menyebalkan memang, kala sesuatu yang kita rencanakan tiba-tiba dijegal ditengah jalan. Mandeg, tanpa ada penjelasan secara konkrit. Seperti ngisep tebu, habis manis sepah dibuang.

Begitu pula hubungan pra nikah. Pacaran atau Ta’aruf. Terserah kalianlah mau menyebutnya apa.
Memang, cinta yang tak direncakan itu baik. Saya pun tidak ingkar mengenai hal itu. Namun ketika sudah menyemi benihnya, berarti harus ada yang diperjuangkan. Waktu, tenaga dan harta harus rela kita keluarkan untuk hidup dengan orang yang kita cintai.
Tapi ingat, ini baru tahap awal. Paling awal. Karena life after marriage itu lebih menguras ketiga hal tadi. Namun kebanyakan orang terlena pada tahap awal ini. Kesusu grusa grusu. Pada akhirnya, pada akhir zaman ini banyak terjadi kasus perceraian. Nikah belum ada 3 tahun. -Ya Allah, lindungi semua rumah tangga hambaMu dari perbuatan yang kau benci ini.- Padahal menurut survey, -ini saya dapat dari tausiyahnya Buya Yahya- dikatakan berhasil atau tidaknya sebuah pernikahan, paling tidak membutuhkan waktu 5 tahun menjalaninya. Dalam waktu itu usahakan segala masalah, apapun itu, yang terjadi dalam pernikahan anda jangan diceritakan kepada orang lain apalagi sosmed. Ataupun kepada orang tua atau mertua sekalipun. Jangan!
Bukan apa-apa, namun kita pun harus sadar diri. Di awal pernikahan pikiran kita masih begitu labil. Yang biasanya, saat masih waktu bujang bisa kesana-kemari, kini harus memperbanyak di rumah. Bisa beli ini beli itu sesuka hati kini harus dan wajib membagi jatah jajan dan dolan dengan keluarga. Dan seabrek urusan rumah tangga yang lainnya. Itu saja dulu. Tidak saya lanjutkan, karena pun saya masih membujang. Tentu saya buta masalah ini. Saya sedang giat-giatnya berjihad nggayuh ridho orang tua dan kerjar mahar. Heuheu.
Itu nanti. Namun yang nanti itu ditentukan dari sekarang.
Kang Raditya Dika dalam novelnya Cinta Dalam Kardus, menuliskan perumpaan tentang hal yang saya tulis di awal tulisan ini, “Kata orang hanya Tuhan dan supirnya yang tahu kapan bajaj akan belok, masih seperti itulah apa yang gue rasakan soal pacaran, hanya Tuhan dan pasangan kita yang tahu kapan hubungan kita akan berubah arah. Tapi yang kita bisa lakukan bukannya menunggu dengan ketakutan, yang bisa kita lakukan adalah memegang tangan pasangan kita, tumbuh bersama guncangan didalamnya dan turun berdua ketika sama-sama sampai ditujuan.”
Pakdhe Mario Teguh juga pernah mengatakan hal yang senada dengan hal itu. Kurang lebih begini kata beliau, “Jodoh itu di tangan kita. Kita yang memilih, Tuhan yang merestui.
Memang benar, jodoh, rejeki dan kematian itu di tangan Tuhan, namun jangan lupa kita juga diberi gelar khalifah fi ardhi¸ yang artinya kita juga diberi kita diberikan hak dan kewenangan memilih.
Antara pasrah dan menyerah tentu adalah hal yang sangat berbeda. Secara kontekstual saja sudah berbeda. Apalagi perilakunya, pun akan sangat jelas berbeda. Seperti kata Kang Raditya Dika di atas “yang kita bisa lakukan bukannya menunggu dengan ketakutan”. Gunakan segala hal yang kita pelajari dan ketahui untuk berusaha mengejar dan mendapatkan apa yang kita benar-benar inginkan. Iya, segala keputusan dan hasil itu di tangan Tuhan, namun tidakkah kita belajar dari kehidupan? Lihatlah, Tuhan mengabulkan apa yang benar-benar diusahakan oleh hamba-hambaNya.
Untuk hal yang benar-benar kita cintai, mustahil ada kata bosan dan menyerahkan?

Daplangu, 20 Januari 2016
Categories:

0 komentar:

Posting Komentar