Jumat, 08 Januari 2016

Dawai Senja



Jika kau hendak tahu definisi senandung pilu
kemari dan simaklah keseluruhanku sebagai rindu
niscaya akan kautemu pemahaman baru bahwa,
rindu selalu mengemban duka yang tiada purna

Tak usah khawatir jikalau memang tak terabadikan takdir
Sajakku tak bakal berakhir memujamu di satu anasir
Walau sepeninggalanku, Ia akan tetap terbaca
: Menjadi dongeng untuk meninabobokan zuriahmu

 Tetaplah tersenyum agar ada yang selalu bisa kuperjuangkan
Sebab mungkin puncak ketakutanku adalah saat kau berlinangan

Dan malam, aku betah untuk tak terpejam
Wilayah yang sering kukunjungi sebagai rindu yang enggan padam
Sebab di sana selalu terdapat wajahmu terserak
Di antara guguran cahya gemintang yang semarak

Maafkan jika sajakku membuat kau slalu resah
Menghayati setiap bagian dari dirimu adalah sebuah anugrah
Maafkan bahwa mungkin aku tak sanggup lupa;
Pada senyummu ketika terakhir kali kita jumpa

Kau tertidur dan mimpi tentang yang bukan aku
Aku terjaga dan mendamba segera tuju dengan dirimu
Kau dan aku mengada sejak di awal Dawai Senja
: Ketabahan yang berjihad melawan trauma

Waduk Mulur, 3 Januari 2016
Categories:

0 komentar:

Posting Komentar