Tampilkan postingan dengan label Tadabur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tadabur. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Desember 2015

Sekilas Terlihat Biasa, Namun Bisa Bahaya Dampaknya

sumber gambar: satujam.com


I.
Saudara laki-laki bertanya kepada adik perempuannya, saat berkunjung, seminggu setelah saudara perempuannya itu melahirkan.
"Hadiah apa yang diberikan suamimu setelah engkau melahirkan?"
"Tidak ada." jawabnya pendek.
Saudara laki-lakinya berkata lagi, "Masa sih, apa engkau tidak berharga di sisinya? Aku bahkan sering memberi hadiah untuk istriku walau tanpa alasan yang istimewa."
Siang itu, ketika suaminya lelah pulang dari kantor menemukan istrinya merajuk di rumah. Keduanya lalu terlibat pertengkaran. Sebulan kemudian, antara suami dan istri ini terjadi perceraian. Dari mana sumber masalah? Kalimat sederhana yang diucapkan saudara laki-laki sang istri tadi.
============

Selasa, 03 November 2015

RUMAH


Rumah adalah tempat kita tinggal, istirahat, berfikir jernih, memulai banyak hal dalam hidup, tempat kita pulang setelah bepergian, tempat yg paling nyaman buat kita, tempat berkumpulnya keluarga, handai taulan serta para sahabat. 
Rumah adalah tempat bermuaranya segala aspek kehidupan. Madrasah pertama kita. Segala pelajaran dimulai di rumah. Buat dan kondisikan rumah menjadi tempat paling nyaman untuk seluruh penghuninya. Di situ dituntut rasa dan kebijakan untuk berbagi, kebersamaan dan menjaga peraaaan sesama penghuni rumah. 
Mari kita buat rumah yg paling nyaman untuk seluruh penghuni rumahnya. Dan tetap ada Kepala Keluarga yg menjadi Imam dan panutan bagi seluruh penghuni rumah.

Jumat, 14 Agustus 2015

ISLAM MENDUKUNG TRADISI YANG BAIK

WAHABI: “Mayoritas umat Islam Indonesia itu ahli bid’ah, karena mereka masih kuat memegang tradisi-tradisi yang berkembang dari nenek moyang mereka sebelumnya. Sedangkan Islam itu jelas anti tradisi. Islam itu hanya al-Qur’an dan hadits saja.’
 
SUNNI: “Pernyataan Anda berangkat dari konsep yang keliru, yakni beranggapan bahwa Islam anti tradisi. Padahal tidak demikian. Dalam pernyataan Anda ada dua kesalahan fatal. Pertama, menganggap dasar Islam hanya al-Qur’an dan hadits. Padahal sejak masa ulama salaf, dasar agama itu ada empat, al-Qur’an, hadits, ijma’ dan Qiyas. Kedua, Anda berasumsi bahwa Islam anti tradisi. Padahal tidak demikian. Tradisi itu ada yang dapat diterima oleh Islam dan ada yang tidak dapat diterima. Cara berpikir Anda sangat picik dan sempit.”WAHABI: “Mana dalil Anda bahwa Islam dapat menerima tradisi?”
 
SUNNI: “Anda harus memahami, bahwa Islam itu agama. Islam bukan budaya dan bukan tradisi. Tapi harus dipahami bahwa Islam tidak anti budaya dan tradisi. Bahkan ketika suatu budaya dan tradisi masyarakat yang telah berjalan tidak dilarang dalam agama, maka dengan sendirinya menjadi bagian dari syari’ah Islam. Demikian ini sesuai dengan dalil-dalil al-Qur’an, Hadits dan atsar kaum salaf yang dipaparkan oleh para ulama dalam kitab-kitab yang mu’tabar (otoritatif).

Jumat, 03 Juli 2015

SECANGKIR KOPI SUFI


Oleh: Candra Malik

Iman dibangun atas empat pilar keyakinan. Yaitu ilmal yaqin atau percaya berdasarkan pengetahuan, 'ainul yaqin atau percaya berdasarkan pandangan langsung, haqqul yaqin atau percaya berdasarkan pengalaman pribadi, dan ikmal yaqin atau percaya berdasarkan keterlibatan mendalam.
Ilmal yaqin dapat diibaratkan sebagai mula-awal belajar. Seorang Sufi menimba ilmu dari siapa pun, terutama dari gurunya, tentang sesuatu hal. Sebagaimana seorang pehobi masak mencatat resep masakan dari seorang Chef. Jika berhenti hanya pada menimba ilmu, apalagi jika sebanyak-banyaknya, maka semakin banyak ilmu justru semakin berat beban hidupnya.

Sabtu, 27 Juni 2015

MENIKAH DAN BERPUASA



Sekitar tujuh tahun yang lalu, ketika hendak menikah, saya mendatangi guru saya untuk meminta nasihat tentang pernikahan.
Sebagai seorang laki-laki, ada sejumlah kebimbangan dalam hati saya. Di satu sisi, saya ingin segera menikah karena saya merasa sudah menemukan ‘jodoh’ saya. Di sisi lain, saya masih merasa belum mampu menjalani pernikahan tersebut—terkait kesiapan mental, kesiapan batin, terlebih kesiapan materi karena barangkali kelak saya yang akan memegang tanggung jawab finansial lebih besar dalam rumah tangga.
“Kalau kamu belum mampu menikah, berpuasalah!” Kalimat itulah yang pertama kali diucapkan guru saya setelah saya menceritakan semuanya. Dingin dan datar.
Rasanya saya ingin bertanya, apakah puasa akan menyelesaikan masalah-masalah yang saya keluhkan? Apakah puasa akan membuat saya siap secara fisik, mental, batin, bahkan finansial? Namun, saya tak berani mempertanyakan semua itu kepada guru saya, hingga saya menanyakan hal lainnya.
“Saya mengerti tentang bahwa kita harus menahan diri, Kiai, menjaga pandangan dan kehormatan,” ujar saya, berusaha memberanikan diri, “Tapi saya ingin menikah bukan karena saya tidak bisa menahan nafsu seksual saya…”

Jumat, 19 Juni 2015

[ESAI] CANDRA MALIK - MUMPUNG RAMADHAN



Sujiwo Tejo seolah menggugat: apa enaknya berpuasa bareng-bareng? "Aku berpuasa, kau, dan dia, juga mereka, pun kalian, kita semua berpuasa pada hari dan bulan yang sama," ujarnya. Yang Sujiwo Tejo maksud adalah berpuasa di Bulan Suci Ramadhan. Lalu, yang semakin tidak ia mengerti, orang-orang bangun dan makan sahur pada jam-jam yang nyaris serentak. Dan lebih absurd lagi, Tejo bilang: lalu kita mengadakan acara berbuka puasa bersama.

"Aku lebih suka berpuasa seorang diri. Orang-orang tetap makan dan minum, dan aku tidak. Bahkan, ketika itu aku berada di antara mereka. Ini puasa yang asyik," kata dalang yang juga pemain saksofon dan komposer itu, dalam majelis Suluk Maleman di Rumah Adab Mulia Indonesia, di Pati, Jawa Tengah, 13 Juni malam lalu. Baginya, dan bagi orang-orang yang merasakan hal yang sama, Bulan Suci Ramadhan justru menjelma bulan makan-minum teratur. Bulan konsumtif, bulan ketika grafik inflasi meningkat hingga lebaran.

Jumat, 26 Desember 2014

MAULID NABI : MENGHIDUPKAN ISLAM

Bila bulan Maulid Nabi tiba, Kaum Muslimin menyambutnya dengan penuh suka cita. Mereka menyebut dengan beragam nama ; Maulid, Maulud, Muludan, Mevlut dan lain-lain, tetapi maknanya sama: Hari Kelahiran. Dan istilah ini selalu dihubungkan dengan kelahiran Nabi Muhammad Saw.
Para sejarawan mencatat: Muhammad bin Aminah dan Abdullah, lahir Senin, 12 Rabi’ al awwal, atau 20 April 571 M, di rumah Abd al-Muthallib (kakeknya) dan dibidani oleh Al-Syifa, ibunda Abd al Rahman bin ‘Auf. Ayahnya;Abd Allah, tak hadir saat yang membahagiakan itu. Ia telah wafat ketika janin Muhammad berusia 2 bulan dalam kandungan ibunya. Bayi Muhammad disusui pertama kali oleh Tsuwaibah, sahaya perempuan pamannya; Abu Lahab dan Halimah al Sa’diyyah untuk masa berikutnya. Aminah mengasuhnya sampai usia Muhammad 6 tahun. Ia wafat di Abwa, sebuah desa antara Makkah dan Madinah, dalam perjalanan pulang dari ziarah ke makam paman-pamannya di Madinah. Pengasuhan selanjutnya dipercayakan kepada Umm Ayman, sahaya perempuan dari Etiopia.

Rabu, 27 Agustus 2014

Filosofi Semar

 
Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya
Bebadra = Membangun sarana dari dasar
Naya = Nayaka = Utusan mangrasul
Artinya : Mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia