Sabtu, 03 Oktober 2015

Disebut Indonesia atau Nusantara

Sumber: www.puzzleincs.com
Disebut Indonesia atau Nusantara
Bagiku kau lebih dari sekedar Negara

Aku tak pernah memilih dari rahim siapa aku keluar
Aku tak pernah tahu di mana aku harus terlahir
Dia Yang Maha Tahu yang berkehendak
Ku jadi putra dari putri negri ini
Bagiku ini lebih dari sekedar karunia
Bagiku kau lebih dari sekedar negara

Sabtu, 26 September 2015

KENAPA NGOPI?

Dalam sebuah perbincangan dengan sekelompok bapak-bapak kemarin. Saya mendapat sebuah filosofi baru tenang kopi. Kegandrungan saya tentang kopi hitam ternyata sangat didukung oleh beliau-beliau. Yang kesemuanya sudah menikah. Lha iyalah, namanya juga sudah mendapat gelar agung, "Bapak".
Begini, usia muda haruslah diisi dengan hal yang dapat menambah ilmu. Membaca, ngaji, perbanyak relasi, dan sebagainya. Satu hal yang sedikit nyleneh dari nasihat beliau, yaitu kudu betah melek!
Alamak beneran tu?

Jumat, 28 Agustus 2015

Kumpulan #FatwaKopi




Manusia selalu memohon petunjuk, lalu Tuhan menciptakan kopi. #FatwaKopi

Dan mengopilah karena sesungguhnya di dalam kopi itu terdapat banyak kenikmatan. #FatwaKopi

Setiap pagi itu sama derajatnya di mata Tuhan. Yang membedakannya adalah kopi apa yang engkau nikmati pada sebuah pagi. #FatwaKopi

Dan sesungguhnya kopi yg tak nyaman adalah rasa [ke]SUSU! #FatwaKopi

Kopi adalah ASI untuk pria dewasa. #FatwaKopi

Diantara bid'ah dlolalah dalam urusan ngopi itu: takaran gula lebih banyak daripada kopinya. #FatwaKopi

Rabu, 26 Agustus 2015

Madrasah Cinta

Madrasah Cinta



.. علمني حبك إن احزن
   وأنا محتاج منذ عصور لآمرأة تجعلني احزن
  لأمراه ابكي فوق ذراعيها مثل العصفور 
 لأمراه تجمع أجزائي كشظايا البللور المكسور


Cintamu mengajariku cara untuk bersedih
Dan selama berabad aku mencari perempuan
Yang sanggup menjadikanku bersedih
Perempuan yang dapat membuatku menangis
Dalam rengkuhan lengannya, seperti burung
Perempuan yang berkenan menghimpun diriku
Seperti ketika ia memunguti serpihan kaca

Selasa, 25 Agustus 2015

Dari Atas Tepian Waduk


Bukan apa-apa, tapi mungkin kau masih ragu menetapkan aku sebagai rindu.
Dari atas tanggul tepian waduk ini, pernah kau berucap ingin menemuiku kembali setelah lama kau jauh dari pandangan mata. Tapi tak kunjung aku temui secuil kabar, kapan pastinya kau akan datang kesini bertukar senyummu padaku.
Sudahlah, Aty. Wilayah yang sering kau sebut sunyi, sampai kini masih setia kuhuni sebagai tempat sembunyi. Sembunyi dari kejadian yang dapat mengikis hati. Tapi siapa yang sebenarnya menunggu, kau atau aku? Berangsur soal muncul; kita seteru atau sekutu?

Sabtu, 22 Agustus 2015

BERGOYANG BERJAMAAH SOLUSINYA

Sumber gambar: solopos.com
Bergoyang adalah pasangan sah dan serasi untuk musik dangdut. Bagai sayur tanpa garam bila ada musik dangdut namun tiada goyang. Dari goyang ngebor sampai ngecor. Goyang patah-patah sampai goyang gergaji. Mungkin sebentar lagi akan terbit goyang toko bangunan. Entah bagaimana bentuknya itu.
Sah-sah saja. Namanya juga goyang.
Mau bokong yang digoyang atau sekedar ngubeng-ngubengne jempol, yang pasti ketika kita mendengar musik dangdut entah yang melo atau yang ngebeat tubuh kita secara otomatis akan menyambut dengan goyangan tanpa kita sadari.
Dangdut is the music of my country, demikianlah kata grup vokal Project Pop dalam salah satu judul lagunya.

Jumat, 14 Agustus 2015

ISLAM MENDUKUNG TRADISI YANG BAIK

WAHABI: “Mayoritas umat Islam Indonesia itu ahli bid’ah, karena mereka masih kuat memegang tradisi-tradisi yang berkembang dari nenek moyang mereka sebelumnya. Sedangkan Islam itu jelas anti tradisi. Islam itu hanya al-Qur’an dan hadits saja.’
 
SUNNI: “Pernyataan Anda berangkat dari konsep yang keliru, yakni beranggapan bahwa Islam anti tradisi. Padahal tidak demikian. Dalam pernyataan Anda ada dua kesalahan fatal. Pertama, menganggap dasar Islam hanya al-Qur’an dan hadits. Padahal sejak masa ulama salaf, dasar agama itu ada empat, al-Qur’an, hadits, ijma’ dan Qiyas. Kedua, Anda berasumsi bahwa Islam anti tradisi. Padahal tidak demikian. Tradisi itu ada yang dapat diterima oleh Islam dan ada yang tidak dapat diterima. Cara berpikir Anda sangat picik dan sempit.”WAHABI: “Mana dalil Anda bahwa Islam dapat menerima tradisi?”
 
SUNNI: “Anda harus memahami, bahwa Islam itu agama. Islam bukan budaya dan bukan tradisi. Tapi harus dipahami bahwa Islam tidak anti budaya dan tradisi. Bahkan ketika suatu budaya dan tradisi masyarakat yang telah berjalan tidak dilarang dalam agama, maka dengan sendirinya menjadi bagian dari syari’ah Islam. Demikian ini sesuai dengan dalil-dalil al-Qur’an, Hadits dan atsar kaum salaf yang dipaparkan oleh para ulama dalam kitab-kitab yang mu’tabar (otoritatif).

Langkah Awal

Awal pernikahan pasti indah karena kita bisa bersanding dengan orang yang kita cintai. Seiring berjalannya waktu, kita mulai menemui kekurangan masing-masing. Mungkin kita akan bertengkar karena beberapa hal tak berjalan sesuai keinginan kita. Kata penelitian, wanita lebih sering berfikir dengan emosi, sedangkan pria mampu berfikir lebih logis.

Namun, pastilah aku akan berusaha untuk tidak kekeh "menang sendiri" karena aku adalah penentu keputusan. Yang pada mulutku saja lah yang menentukan apakah kita tetap bersama atau berpisah.

Rabu, 12 Agustus 2015

Kapan Nikah?

Sebuah pertanyaan yang sungguh menghunjam hati bak lesatan anak panah dari busur pasoepati sang Arjuna. Seharusnya aku sudah lebih tenang mendengar pertanyaan itu, karena sudah terlamapau sering dilontarkan oleh orang-orang. Dan kebanyakan yang melontarkan pertanyaan itu adalah orang yang sedang tak mengalami apa yang aku alami saat ini. Mayoritas jomblo.
Namun kata hati tak mungkin bisa dibohongi. Tertekan itu pasti. Beban jiwa? Sudah jangan ditanyai lagi.

Jumat, 03 Juli 2015

SECANGKIR KOPI SUFI


Oleh: Candra Malik

Iman dibangun atas empat pilar keyakinan. Yaitu ilmal yaqin atau percaya berdasarkan pengetahuan, 'ainul yaqin atau percaya berdasarkan pandangan langsung, haqqul yaqin atau percaya berdasarkan pengalaman pribadi, dan ikmal yaqin atau percaya berdasarkan keterlibatan mendalam.
Ilmal yaqin dapat diibaratkan sebagai mula-awal belajar. Seorang Sufi menimba ilmu dari siapa pun, terutama dari gurunya, tentang sesuatu hal. Sebagaimana seorang pehobi masak mencatat resep masakan dari seorang Chef. Jika berhenti hanya pada menimba ilmu, apalagi jika sebanyak-banyaknya, maka semakin banyak ilmu justru semakin berat beban hidupnya.

Sabtu, 27 Juni 2015

MENIKAH DAN BERPUASA



Sekitar tujuh tahun yang lalu, ketika hendak menikah, saya mendatangi guru saya untuk meminta nasihat tentang pernikahan.
Sebagai seorang laki-laki, ada sejumlah kebimbangan dalam hati saya. Di satu sisi, saya ingin segera menikah karena saya merasa sudah menemukan ‘jodoh’ saya. Di sisi lain, saya masih merasa belum mampu menjalani pernikahan tersebut—terkait kesiapan mental, kesiapan batin, terlebih kesiapan materi karena barangkali kelak saya yang akan memegang tanggung jawab finansial lebih besar dalam rumah tangga.
“Kalau kamu belum mampu menikah, berpuasalah!” Kalimat itulah yang pertama kali diucapkan guru saya setelah saya menceritakan semuanya. Dingin dan datar.
Rasanya saya ingin bertanya, apakah puasa akan menyelesaikan masalah-masalah yang saya keluhkan? Apakah puasa akan membuat saya siap secara fisik, mental, batin, bahkan finansial? Namun, saya tak berani mempertanyakan semua itu kepada guru saya, hingga saya menanyakan hal lainnya.
“Saya mengerti tentang bahwa kita harus menahan diri, Kiai, menjaga pandangan dan kehormatan,” ujar saya, berusaha memberanikan diri, “Tapi saya ingin menikah bukan karena saya tidak bisa menahan nafsu seksual saya…”

Kamis, 25 Juni 2015

SURAT ITU




Surat itu...
Sebelumnya, ku ucapkan banyak terima kasih kepadamu. Telah mau engkau menerima serta membaca surat dariku. Ya, surat. Bukan SMS, BBM, WA ataupun E-mail. Surat asli tulisan tangan dariku. Yang kata orang, tulisan tangan lebih memiliki “ruh” ketika dibaca.
Surat yang memang sedikit panjang dan berbelit-belit. Maaf jika banyak menyedot waktumu kala membacanya. Semoga dengan surat yang aku tulis itu dapat sedikit menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tak sempat kau tanyakan atau yang tak berani kau tanyakan langsung kepadaku.

Sabtu, 20 Juni 2015

Kakak Takmir dan Kakak Pendaki, Ngopi-lah dulu

sumber gambar: travel.detik.com



Apalagi ini?!
Bisa tidak sih, menanggapi kritikan dengan stel kendo / slow kayak ibu-ibu mau masukin benang ke dalam lubang jarum. Kedua masalah dipegang dengan erat, namun untuk menyatukannya penuh dengan kehati-hatian tingkat dewa sambil memincingkan mata.
Buat apa juga kakak takmir masjid nyinyirin kakak-kakak pendaki. Statment yang terkesan menuduh para kakak Pendaki kalau sedang menapaki jalan tanjakan dan turunan di gunung pastilah tidak pernah sholat di masjid itu memang nylekit. Ngejleb. Dan nge-nge lainnya.
Haloo!!
Kalian yang udah mendaki gunung beribu-ribu Mdpl. Dapat salam dari Masjid sebelah rumah nih. Udah sering sholat di sana?
Itu memang sebuah kalimat yang bisa dibilang nasehat. Kita tidak boleh memandang bahwa itu salah mutlak juga bukan? Ngono yo ngono ning ojo ngono.