Sabtu, 30 Agustus 2014

Cerita Malam, Membangun Ingatan


Daplangu usai gerimis, nona. Di teras rumah aku duduk sendiri masih dengan kain sarung sebagai doublean celana pendekku, secangkir kopi gethek geni atau kau lebih suka menyebutnya dengan kopi kapal api. hehehe. sebatang rokok di sela-sela jari jari tangan kiri ku. Suasana sepi seperti biasa, tapi asyik, dimana suara-suara binatang malam saling bersaut-sautan, kodok, jangkrik, dan sesekali suara burung hantu ikut nimbrung di malam ini. Dan baru saja Hadrah Ahbaabul Musthofa menyelesaikan Qosidah "Robbi Kholaq".

Aku tak tahu kamu masih didepan laptopmu sambil mendengarkan tausiah dengan headset yang terselip di telingamu, atau kamu masih cekikikan dengan kawan-kawanmu. Atau kamu sudah tenang dalam selimut di lantai 2 kamarmu, mendengarkan sholawat juga? Kau dengarkan sholawat dengan jendela kamar sedikit terbuka sehingga nun dibawah sana tampak rumah-rumah tetangga kerlap-kerlip bagai taburan mutiara menyala.

Rabu, 27 Agustus 2014

Filosofi Semar

 
Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya
Bebadra = Membangun sarana dari dasar
Naya = Nayaka = Utusan mangrasul
Artinya : Mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia

Jumat, 22 Agustus 2014

Petani dan Pengendara Mobil

Sumber Foto: lukihermanto.com
Seorang petani dan istrinya bergandengan tangan menyusuri jalan sepulang dari sawah sambil diguyur air hujan. Tak lama berselang, sebuah motor melaju melewati mereka. Berkatalah sang istri kepada petani, "Lihat, pak, betapa bahagianya suami-istri yg naik motor itu mesti mereka kehujanan, tapi mereka bisa cepat sampai di rumah, tidak seperti kita yang harus lelah berjalan untuk sampai kerumah."

Kamis, 21 Agustus 2014

Kapan mengucapkan SUBHANALLAH dan kapan mengucapkan MASYA ALLAH


Copas dari FP Resmi KH Muhammad Arifin Ilham
 
Jazaakumullah INILAH ISLAM, izinkan abang share tentang "Kapan mengucapkan SUBHANALLAH dan kapan mengucapkan MASYA ALLAH". Ungkapan dzikir atau kalimah thayyibah "Subhanallah" sering tertukar dengan ungkapan "Masya Allah". Ucapkan "Masya Allah" kalau kita merasa kagum. Ucapkan "Subhanallah" jika melihat keburukan! SELAMA ini kaum Muslim sering “salah kaprah” dalam mengucapkan Subhanallah (Mahasuci Allah), tertukar dengan ungkapan Masya Allah (Itu terjadi atas kehendak Allah). Kalau kita takjub, kagum, atau mendengar hal baik dan melihat hal indah, biasanya kita mengatakan Subhanallah. Padahal, seharusnya kita mengucapkan Masya Allah yang bermakna “hal itu terjadi atas kehendak Allah”. Ungkapan Subhanallah tepatnya digunakan untuk mengungkapkan “ketidaksetujuan atas sesuatu”. Misalnya, begitu mendengar ada keburukan, kejahatan, atau kemaksiatan, kita katakan Subhanallah (Mahasuci Allah dari keburukan demikian). Ucapan Masya Allah. Masya Allah artinya “Allah telah berkehendak akan hal itu”.Ungkapan kekaguman kepada Allah dan ciptaan-Nya yang indah lagi baik. Menyatakan “semua itu terjadi atas kehendak Allah”.

Senin, 18 Agustus 2014

Syiir Nasehat Suami Istri


Sholli wasallim daa iman alah mada
Sholli wasallim daa iman alah mada
Wal ali wal ashaa biman qod wah hada
Wal ali wal ashaa biman qod wah hada

Ayo poro ibu do podo bektio
Marang kakung ipun ojo nganti lirwo
Yen podo dijaga Allah bakal ridho
Tembe mburi digampangke mlebu surga

Minggu, 17 Agustus 2014

Jilbab, Antara Kewajiban dan Parameter Kesholehan Muslimah


Muslimedianews.com ~ 1. Sebenarnya, Berjilbab (menutup aurat) itu tidak ada hubungannya dengan akhlak, dengan moralitas

2. Dalam pandangan masyarakat kita, wanita berjilbab selalu diidentikkan sebagai wanita yang santun, kalem, rajin shalat...

3. ...rajin bersedekah, sering hadir di majelis pengajian, dan berbagai predikat kesalehan lainnya.

4. Boleh jadi -dan faktanya- sebagian besar wanita berkerudung memang seperti yang dipersepsikan masyarakat.

5. Sebaliknya, muslimah yang tak berkerudung, meski akhlaknya baik, tentu saja dipandang tak sebaik muslimah berkerudung.

6. Ini tentunya merupakan hal yang lumrah dan spontanitas muncul dalam benak masyarakat.

Hijab Syar'i Itu Seperti Apa Sih ?




Muslimedianews.com ~ 1. Kultwit ini adalah pengembangan dari twit2 santaiku soal hijab tadi pagi. Sebab jika kita perhatikan, soal hijab menggeret hukum yg lain.

2. Juga sekaligus mungkin pertanyaan seperti apa sih hijab syar'i itu kok sekarang rajin betul dikampanyekan di mana2. Sangat positif.

3. Ayat soal hijab sendiri termaktub dalam surat al-ahzab: 59 dan annur: 31. Namun seperti yg kita ketahui, ayat ini masih global.

Sabtu, 16 Agustus 2014

Lirik Padang Bulan versi Pengantin Baru (+MP3)

Padang Bulan versi pengantin
اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَنَا مُحَمَّدٍ
عَدَدَ مَا فِى عِلْمِ اللهِ صَلاَةً دَائِمَةً بِدَوَامِ مُلْكِ اللهِ

Aduh senengene temanten anyar jejer lungguhe
Koyo rojo-koyo rojo karo ratune
Isuk awan sore gak enek bedane
Iku tandane temanten anyar akeh berkahe

Selasa, 05 Agustus 2014

TERUNTUK SUAMI DAN CALON SUAMI


saat istri marah,ia belum tentu kesal . . .
ia hanya butuh perhatian
saat istri menangis,ia belum tentu bersedih . . .
ia hanya butuh pelukan
saat istri cemberut,ia belum tentu kecewa . . .
ia hanya butuh perhatian
saat istri cemburu,ia belum tentu iri . . .
ia hanya butuh pujian

Rabu, 11 Juni 2014

The Smiling Habib, Al-Habib Anis bin Alwi bin Ali Al-Habsyi


Habib Anis lahir di Garut Jawa Barat, Indonesia pada tanggal 5 Mei 1928. Ayah beliau adalah Habib Alwi. Sedangkan ibu beliau adalah syarifah Khadijah. Ketika beliau berumur 9 tahun, keluarga beliau pindah ke Solo. Setelah berpindah-pindah rumah di kota Solo, ayah beliau menetap di kampung Gurawan, Pasar Kliwon Solo.
Sejak kecil, Habib Anis dididik oleh ayah sendiri, juga bersekolah di madrasah Ar-Ribathah, yang juga berada di samping sekolahannya. Pada usia 22 tahun, beliau menikahi Syarifah Syifa binti Thaha Assagaf, setahun kemudian lahirlah Habib Ali.
Tepat pada tahun itu juga, beliau menggantikan peran ayah beliau, Habib Alwi yang meninggal di Palembang. Habib Ali bin Alwi Al Habsyi adik beliau menyebut Habib Anis waktu itu seperti “anak muda yang berpakaian tua”.

Kamis, 22 Mei 2014

Ma’rifat, Fana’ dan Cinta

Siapa yang mengenal Allah Swt ia menyaksikanNya dalam segala hal. Dan siapa yang fana’ padaNya, ia sirna dari segalanya, dan siapa yang mencintaiNya tak akan pernah memprioritaskan selain Dia.” 

Sang arif senantiasa memandang segalanya ada di sisiNya dan bagiNya, lalu ia tidak melihat yang lain kecuali Dia. Bagaimana ia melihat yang lain, --pasti mustahil-– ketika ia sedang melihatNya?
Sebuah syair menyebutkan:
Sejak daku mengenal Tuhan
Aku tak melihat yang lain
Begitu jua yang lain tak tampak
Sejak aku berpadu denganNya
Tak ada ketakutan pada diriku
Hari ini, sungguh aku telah sampai
Syeikh Zarrug menegaskan, ma’rifat adalah mewujudkan kema’rifatannya sesuai dengan keagungan yang dima’rifati (Allah Swt). Sehingga perwujudan hakikat itu, membuat seakan-akan menjadi sifat baginya, tidak bergerak dan tidak berpindah. Gerak-geriknya tidak berjalan kecuali menurut aturannya. Maka pada saat itulah hatinya tegak setiap waktu dan dalam kondisi apa pun. Maka menyaksikan Allah azza wa-Jalla mengarahkan pada rasa fana’ di dalamnya, secara total kembali padaNya.

Rabu, 21 Mei 2014

TAK TERHIMPIT TATKALA SEMPIT

 


Untaian hikmah pertama:

بسطك كى لايبقيك مع القبض وقبضك كى لايتركك مع البسط وأخرجك عنهما كى لاتكون لشيء دونه
“Dia memberimu kelapangan agar engkau tidak terus berada dalam kesempitan. Sebaliknya, Dia memberimu kesempitan agar tidak terus berada dalam kelapangan. Lalu Dia mengeluarkanmu dari keduanya agar tidak tergantung kepada selain-Nya”

Dia sengaja menghadirkan dua keadaan silih berganti dalam diri manusia yaitu dengan diberikan kelapangan dan kesempitan. Allah Swt ingin membuat manusia sadar bahwa ada Dia yang mengatur hidup. Pada saat bahagia, Allah Swt hadir dengan sentuhan kelapangan dan sebaliknya pada saat sedih, Allah Swt menyentuh dengan kesempitan. Ini berkaitan dengan sifat Jalaliah dan Jamaliah-Nya, maka sebagai manusia seyogyanya belajar dari dua keadaan itu. Orang yang cerdas tidak akanmenjadikan selain-Nya sebagai pusat perhatian, tidak peduli lapang dan sempit, hatinya tetap kepada sang Pemilik.
Apa hubungan untaian hikmah tersebut dengan perilaku Hakim? Tentu saja ada hubungannya. Hakim sebagai “wakil Tuhan” di muka bumi dalam menegakkan hukum-hukum-Nya, juga tidak terlepas dari kodratnya sebagai manusia biasa. sebagai penegak hukum, seorang hakim dituntut menyelenggarakan peradilan dengan bersih, professional, jujur, dan adil. Sebaliknya, sebagai manusia, dia juga tidak terlepas dari dua keadaan – sempit dan lapang – yang merupakan ujian dalam melaksanakan tugasnya sebagai hakim.

Senin, 19 Mei 2014

Kitab Tauhid Aqidaqul Awam


Asal Usul Nazham 'Aqidatul 'Awam

Kitab Nazhom 'Aqidatul 'Awam karangan Sayyidh Ahmad Al-Marzuqi bermula dari mimpi Sayyid Ahmad Marzuqi pada malam Juma'at pertama di bulan Rajab tahun 1258 H yang bertemu dengan Rasululloh saw dan para sahabatnya, dalam mimpi tersebut Rasululloh saw berkata kepada Sayyid Ahmad Al-Marzuki "Bacalah Manzhumah Tauhid " barang siapa yang menghafalnya dia akan masuk ke dalam syurga dan mendapatkan segala macam kebaikan, yang sesuai dengan maksud Al-Qur'an dan Sunnah ."

Sayyid Ahmad Marzuqi pun bingung dan bertanya kepada Rasululloh saw "Nadzhom apa ya Rosululloh..??. Para sahabat menjawab " Dengarkan saja apa yang akan Rasululloh saw ucapkan " . Nabi Muhammad saw berkata " Ucapkan..
أبـْـدَأُ بِـاسْمِ اللهِ والـرَّحْـمَنِ