Rabu, 12 Agustus 2015

Kapan Nikah?

Sebuah pertanyaan yang sungguh menghunjam hati bak lesatan anak panah dari busur pasoepati sang Arjuna. Seharusnya aku sudah lebih tenang mendengar pertanyaan itu, karena sudah terlamapau sering dilontarkan oleh orang-orang. Dan kebanyakan yang melontarkan pertanyaan itu adalah orang yang sedang tak mengalami apa yang aku alami saat ini. Mayoritas jomblo.
Namun kata hati tak mungkin bisa dibohongi. Tertekan itu pasti. Beban jiwa? Sudah jangan ditanyai lagi.

Jumat, 03 Juli 2015

SECANGKIR KOPI SUFI


Oleh: Candra Malik

Iman dibangun atas empat pilar keyakinan. Yaitu ilmal yaqin atau percaya berdasarkan pengetahuan, 'ainul yaqin atau percaya berdasarkan pandangan langsung, haqqul yaqin atau percaya berdasarkan pengalaman pribadi, dan ikmal yaqin atau percaya berdasarkan keterlibatan mendalam.
Ilmal yaqin dapat diibaratkan sebagai mula-awal belajar. Seorang Sufi menimba ilmu dari siapa pun, terutama dari gurunya, tentang sesuatu hal. Sebagaimana seorang pehobi masak mencatat resep masakan dari seorang Chef. Jika berhenti hanya pada menimba ilmu, apalagi jika sebanyak-banyaknya, maka semakin banyak ilmu justru semakin berat beban hidupnya.

Sabtu, 27 Juni 2015

MENIKAH DAN BERPUASA



Sekitar tujuh tahun yang lalu, ketika hendak menikah, saya mendatangi guru saya untuk meminta nasihat tentang pernikahan.
Sebagai seorang laki-laki, ada sejumlah kebimbangan dalam hati saya. Di satu sisi, saya ingin segera menikah karena saya merasa sudah menemukan ‘jodoh’ saya. Di sisi lain, saya masih merasa belum mampu menjalani pernikahan tersebut—terkait kesiapan mental, kesiapan batin, terlebih kesiapan materi karena barangkali kelak saya yang akan memegang tanggung jawab finansial lebih besar dalam rumah tangga.
“Kalau kamu belum mampu menikah, berpuasalah!” Kalimat itulah yang pertama kali diucapkan guru saya setelah saya menceritakan semuanya. Dingin dan datar.
Rasanya saya ingin bertanya, apakah puasa akan menyelesaikan masalah-masalah yang saya keluhkan? Apakah puasa akan membuat saya siap secara fisik, mental, batin, bahkan finansial? Namun, saya tak berani mempertanyakan semua itu kepada guru saya, hingga saya menanyakan hal lainnya.
“Saya mengerti tentang bahwa kita harus menahan diri, Kiai, menjaga pandangan dan kehormatan,” ujar saya, berusaha memberanikan diri, “Tapi saya ingin menikah bukan karena saya tidak bisa menahan nafsu seksual saya…”

Kamis, 25 Juni 2015

SURAT ITU




Surat itu...
Sebelumnya, ku ucapkan banyak terima kasih kepadamu. Telah mau engkau menerima serta membaca surat dariku. Ya, surat. Bukan SMS, BBM, WA ataupun E-mail. Surat asli tulisan tangan dariku. Yang kata orang, tulisan tangan lebih memiliki “ruh” ketika dibaca.
Surat yang memang sedikit panjang dan berbelit-belit. Maaf jika banyak menyedot waktumu kala membacanya. Semoga dengan surat yang aku tulis itu dapat sedikit menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tak sempat kau tanyakan atau yang tak berani kau tanyakan langsung kepadaku.

Sabtu, 20 Juni 2015

Kakak Takmir dan Kakak Pendaki, Ngopi-lah dulu

sumber gambar: travel.detik.com



Apalagi ini?!
Bisa tidak sih, menanggapi kritikan dengan stel kendo / slow kayak ibu-ibu mau masukin benang ke dalam lubang jarum. Kedua masalah dipegang dengan erat, namun untuk menyatukannya penuh dengan kehati-hatian tingkat dewa sambil memincingkan mata.
Buat apa juga kakak takmir masjid nyinyirin kakak-kakak pendaki. Statment yang terkesan menuduh para kakak Pendaki kalau sedang menapaki jalan tanjakan dan turunan di gunung pastilah tidak pernah sholat di masjid itu memang nylekit. Ngejleb. Dan nge-nge lainnya.
Haloo!!
Kalian yang udah mendaki gunung beribu-ribu Mdpl. Dapat salam dari Masjid sebelah rumah nih. Udah sering sholat di sana?
Itu memang sebuah kalimat yang bisa dibilang nasehat. Kita tidak boleh memandang bahwa itu salah mutlak juga bukan? Ngono yo ngono ning ojo ngono.

Jumat, 19 Juni 2015

[ESAI] CANDRA MALIK - MUMPUNG RAMADHAN



Sujiwo Tejo seolah menggugat: apa enaknya berpuasa bareng-bareng? "Aku berpuasa, kau, dan dia, juga mereka, pun kalian, kita semua berpuasa pada hari dan bulan yang sama," ujarnya. Yang Sujiwo Tejo maksud adalah berpuasa di Bulan Suci Ramadhan. Lalu, yang semakin tidak ia mengerti, orang-orang bangun dan makan sahur pada jam-jam yang nyaris serentak. Dan lebih absurd lagi, Tejo bilang: lalu kita mengadakan acara berbuka puasa bersama.

"Aku lebih suka berpuasa seorang diri. Orang-orang tetap makan dan minum, dan aku tidak. Bahkan, ketika itu aku berada di antara mereka. Ini puasa yang asyik," kata dalang yang juga pemain saksofon dan komposer itu, dalam majelis Suluk Maleman di Rumah Adab Mulia Indonesia, di Pati, Jawa Tengah, 13 Juni malam lalu. Baginya, dan bagi orang-orang yang merasakan hal yang sama, Bulan Suci Ramadhan justru menjelma bulan makan-minum teratur. Bulan konsumtif, bulan ketika grafik inflasi meningkat hingga lebaran.

Rabu, 17 Juni 2015

Dewasa Kelas Pemula

Sumber gambar: kaskus.co.id


Betapa banyak orang yang sudah berumur 16 tahun keatas yang menurut undang-undang sudah dikatakan “dewasa” masih berperilaku seperti halnya anak kecil yang masih duduk di bangku playgroup.
Anak kecil biasanya senang saat diberi permen yang bentuknya menggiurkan lidah, penuh warna-warna, tanpa pernah peduli jika permen itu ternyata beracun. Padahal orang tuanya sudah memberitahu bahwa permen itu hanya nampak luar saja yang indah. Dalamnya berisi racun, narkoba, sabu-sabu dan seabrek bahan berbahaya yang bisa saja sekali tenggak nyawa melayang.
Lha piye, namanya juga anak kecil. Dikatakan belum dewasa, karena cara berpikirnya terlalu sempit. Yang hanya melihat apa yang tampak di depan mata. Celaka belakangan urusannya belakangan.
Contoh lain, generasi muda kita, terutama anak SMA yang sekarang sepertinya anak SMP juga sudah mulai berani merayakan kelulusan dengan corat-coret baju, pesta miras dan sabu. Malahan, pada bulan April yang lalu, sebuah EO mau mengadakan sebuah “pesta bikini” untuk merayakan kelulusan SMA. Alamak, makin gila jaman ini. Tanpa peduli efek buruk yang akan ditimbulkan kemudian hari. Karena ya, itu tadi, cara berpikirnya terlalu sempit. Yang hanya melihat apa yang tampak di depan mata.

Jejaring Sosial Mah Gitu


Di era digital ini siapa yang tak kenal dengan facebook? Jejaring sosial yang diluncurkan pada bulan Februari 2004. Pada September 2012, Facebook memiliki lebih dari satu miliar pengguna aktif, lebih dari separuhnya menggunakan telepon genggam.
Facebook didirikan oleh Mark Zuckerberg bersama teman sekamarnya dan sesama mahasiswa Universitas Harvard, Eduardo Saverin, Andrew McCollum, Dustin Moskovitz dan Chris Hughes.
Penggunanya pun dari berbagai kalangan. Dari anak yang masih ingusan, remaja, dewasa, sampai kakek nenek pun ada. Seperti menurut survei Consumer Reports bulan Mei 2011, ada 7,5 juta anak di bawah usia 13 tahun yang memiliki akun Facebook dan 5 juta lainnya di bawah 10 tahun, sehingga melanggar persyaratan layanan situs ini.

Selasa, 09 Juni 2015

Memasak? Di Dapur Saja


Sebenarnya malam ini saya ingin cepat-cepat mancal kemul dan langsung tidur. Namun karena saya sudah janji kepada khalayak umum, bahwa saya akan melanjutkan tulisan saya di status facebook.
Oke cekidot...
Ketika merasa kecewa dengan pasanganmu mbok yo kalau bisa jangan dishare di sosmed. Entah itu facebook, twitter, blog, WA, BBM, dan segala hal yang ketika kau menuliskan sesuatu akan banyak orang yang tahu, itu sosmed.
“Jangan Memasak Di Ruang Tamu”
Mungkin itu kiasan yang tepat, guna menjelaskan tentang hal ini.
Sekarang bayangkan, ruang tamu, sebuah tempat yang dilihat pertama kali oleh orang banyak, sebagian bahkan orang asing yang sekadar singgah ke rumah kita. Lantaran semestinya urusan masak-memasak dilakukan di dapur, bukan di ruang tamu, sebagai kegiatan pribad bukan kegiatan publik, maka wajar sajalah bila kemudian muncrat berbagai hal negatif itu. So, meletakkan sesuatu tidak pada pada letak semestinya amat sangat berpeluang untuk menghadirkan masalah-masalah buruk. Masalah-masalah yang niscaya takkan pernah terjadi dan meluas kemana-mana, menyebar ke ruang luas bernama ruang tamu, ruang publik, umpama kita mampu membedakan mana letak yang pas untuk memasak dan mana yang bukan.

Senin, 18 Mei 2015

Gerutu Doa



Ya Allah, dia gadis yang baik. Jadikan dia kekasih-Mu, tanamkan berjuta benih cinta dihatinya kepada-Mu, agar setiap gerak dan langkahnya dapat meniru utusan-Mu yang teragung, Nabi Muhammad SAW. Hingga terbimbimlah semua apa yang akan dia lakukan dan katakan. Kalau bukan kepada-Mu wahai Dzat yang Maha Pengasih, kepada siapa lagi hamba merintihkan ketidakmampuan hamba ini.
Bentang garis kehidupan ini telah nyaris sempurna dilalui olehnya. Suka dan duka rasa-rasanya telah dia lahap dengan ketangguhan jiwa yang luar biasa. Sebagai seorang laki-laki diriku telah dikalahkan telah oleh dirinya. Semangat untuk menjadi seorang “Khadijah” jelas tergambar dari sorot matanya yang teduh, senyumnya yang menentramkan jiwa, dan lembut caranya menyentuh.

Senin, 04 Mei 2015

BERKIRIM-KIRIMAN SURAT




BERKIRIM-KIRIMAN SURAT
Tenggelamnya Kapal van der Wijck (BUYA HAMKA)

Surat yang Ketiga
Sahabatku Hayati!
Sebagai kukatakan dahulu, lebih bebas saya menutis surat dari pada berkata-kata dengan engkau.
Saya lebih pandai meratap dalam surat, menyesal dalam surat, mengupat dalam surat. Karena bilamana saya bertemu dengan engkau, maka matamu yangsebagai bintang Timur itu senantiasa menghilangkan susun kataku.
Sebelum bertemu, banyak yang teringat, setelah bertemu semuanya hilang, karena kegembiraan pertemuan itu telah menutupi akan segala ingatan.
Inilah suratku yang ketiga. Dan alangkah beruntungnya peraaan hatiku jika beroleh balasan, padahal sepucuk pun belum pernah engkau balas. Tahu saya apa jadi sebabnya Bukan lantaran engkau tak dapat mengarang surat.

Cerita Penulasan Hutang

Di malam ini. Bukan. Bukan hanya malam ini. Namun setiap malam. Sepanjang malam. Setiap tulisanmu selalu aku menungguinya. Kutunggui dengan penuh sabar seperti aku setiap harinya menunggui ampas kopi untuk mengendap. Meski setiap kali menengok ke blog atau twitter aku harus kembali termenung dengan sedikit merasa kecewa, karena tiada tulisan yang baru. Kalaupun ada tiada cerita yang menjadi penenang gemuruh rinduku.
Tapi adanya bingkai senyummu selalu berhasil menampik segala kekecewaan. Menginjak segala keraguan. Namun tidak untuk mengusir gemuruh rindu yang meronta hebat. Yang sedikit pun tiada berbelas kasihan kepda jiwa yang nyata-nyata lemah. Tubuh bolehlah tegap berdiri, menorehkan senyum di khalayak umum, namun jiwa tetaplah berlinang air mata.
Aku menulis ini bagaikan menggunakan tinta dari air mata, yang aku wadahi dalam pena keteguhan doa.

Sabtu, 02 Mei 2015

Lelaki Bodoh



Lelaki itu sangat mudah "berharap" kepada wanita. Sebetulnya mengarah kepada kebodohan yang tersamarkan. Terlalu ge-er lebih halusnya. Hanya dengan wanita itu sering membalas sms, chat, BBM, WA, dan seperangkat alat penghubung lainnya. Lelaki akan mengira bahwa si wanita itu tertatik padanya.
Mungkin ini akan mendapat pertentangan oleh para lelaki. Yang notabene penolaknya adalah sekumpulan lelaki yang pernah di pe-ha-pe-in sama sifatnya sendiri ini.
Yang lainnya mungkin mengangguk mengaminkan hal ini. Mungkin lho ini. Karena seluruh opini saya ini sangat tidakberhasrah untuk diseujui. Malah kadang saya berharap opini saya ini salah. Yah, namun saya hanya men-share pengalaman bodoh saya dulu. Dulu! Catat itu.