Di malam ini. Bukan. Bukan hanya malam ini. Namun setiap malam. Sepanjang
malam. Setiap tulisanmu selalu aku menungguinya. Kutunggui dengan penuh sabar
seperti aku setiap harinya menunggui ampas kopi untuk mengendap. Meski setiap
kali menengok ke blog atau twitter aku harus kembali termenung
dengan sedikit merasa kecewa, karena tiada tulisan yang baru. Kalaupun ada
tiada cerita yang menjadi penenang gemuruh rinduku.
Tapi adanya bingkai senyummu selalu berhasil menampik segala kekecewaan. Menginjak
segala keraguan. Namun tidak untuk mengusir gemuruh rindu yang meronta hebat. Yang
sedikit pun tiada berbelas kasihan kepda jiwa yang nyata-nyata lemah. Tubuh bolehlah
tegap berdiri, menorehkan senyum di khalayak umum, namun jiwa tetaplah
berlinang air mata.
Aku menulis ini bagaikan menggunakan tinta dari air mata, yang aku wadahi
dalam pena keteguhan doa.

















