Sabtu, 18 April 2015

Secuil Tentang Janji



Pernah tidak sih kalian merasa tenang-tenang saja seolah tidak pernah terjadi apa-apa, padahal baru saja kalian tidak memenuhi janji yang telah kalian lontarkan pada orang lain karena sesuatu hal. Yang ndilalah orang yang kalian lontari janji itu tak pernah menanyakannya atau pun mengungkit-ungkitnya?

Bukankah lebih bijaknya, ya, minimal memberikan klarifikasi sebelum tet waktu pas janji itu mestinya kita ada atau datang. Atau, secuil klarifikasi sesudah waktu tet janji itu terlewat.

Kita tidak pernah tahu pasti apa yang menyebabkan orang yang kita lontari janji itu tidak pernah menanyakan atau mengungkit-ungkitnya. Tapi, mbok ya ada rasa perkewuh sedikitlah. Grundel kenapa janji itu tidak terpenuhi itu pasti lho. Lha wong terlambat sedikit saja kita disuruh lari keliling lapangan oleh guru kita waktu sekolah. Heuheu.

Jumat, 17 April 2015

Secuil Tentang Tulisan



Kenapa saya lebih memilih berkara lewat tulisan daripada lukisan atau bentuk visual lainnya. Yah, karena tulisan lebih to the point. Menjurus. Tidak bertela-tele, leda lede. Macam siput berjalan namun di ikat cangkangnya pada tiang. Huaaaa, ok ini lebay.
Tulisan saya pilih karena keaslian perasaan penulisnya benar-benar berasa. Maksud dan tujuan tulisan lebih mudah di cerna untuk semua kalangan. Bahkan untuk orang-orang seperti saya yang masih begitu pekok. Lebih mudah rasanya menerjemahkan isi tulisan daripada menerjemahkan isi lukisan.
Kita tengok kebelakang, bagaimana orang-orang terdahulu begitu dikenal namannya, walaupun banyak diantara beliau-beliau hidup di jaman yang belum terjamah oleh kamera. Masih sedikit yang bisa melukis, atau memang beliau tidak mau dilukis.

Kamis, 16 April 2015

In My Arogant Opinion


Ngumpul bareng (sumber: hipwee.com)
Pernahkah kalian dimintai tolong atau ditanya sama kekasih (atau mantan) dari temanmu, tentang apa aja, layaknya mata-mata, atau malaikat penolong (at least he/she thinks so)? Pertanyaan yang diajukan, kira-kira, begini,
“Dia ngapain aja selama aku jauh dari dia?”,
“Bantuin aku balikan sama dia dong!”, dan sebagainya. Intinya, nanya-nanya tentang dia yang terkasih.
 Kadang bingung, kan, kalau ditanya kayak gitu?! Aku pernah mengalami hal kayak gitu beberapa kali. Mau tahu jawabanku? Mau nggak mau, kamu tetep akhirnya tahu kalau baca ini, huahahaha (ketawa setan)!!!

Selasa, 14 April 2015

Awal Bermula



Prolog
Aku sangat menyukai senyum dan suaranya yang masih memberi ruang di sisi hatinya bagi laki-laki yang rapuh dan kalah. Pernah aku ceritakan kepada gadis berpipi dengan size agak sedikit berlebih itu, riwayat kisah perjalanan cintaku yang tak kunjung mulus.
Dan kini kuulangi kembali. Bukan untuk mengingat-ingat mantan. Bukan! Namun ini sekedar mengingatkan betapa beruntungnya diriku, yang oleh Tuhan dikenalkan dengan gadis berpipi dengan size agak sedikit berlebih itu. Ihirr.
Dalam hitunganku, setidaknya aku pernah tiga kali kalah dalam menjalani kisah cinta. Kalah total. Berantakan. Berserakan. Mulai dari diputus dengan alasan konyol. Ada pula yang sudah bersanding denganku namun sempat-sempatnya kangen sama mantannya. Untuk ukuran lelaki normal, seorang gadis yang telah dia yakin mencintainya. Jangankan dekat dengan mantannya lagi, lha wong dengan kawannya sendiri pun bisa cemburu gila kalau dari awal tiada penjelasan.

Senin, 13 April 2015

ISYFA’LANA YA RASULULLAH



Malam telah benar-benar sempurna, merata di muka tanah. Tak banyak suara binatang malam terdengar kali ini. Hanya suara kodok bersautan sana-sini. Bergembira karena dari lepas Isya’ tadi sampai pukul 22.00 tetes hujan terakhir baru saja mendarat di muka tanah.
Duduk bersila aku bersanding dengan setangkup senyum gadis berpipi tembem dan cangkir kopi bergambar kodok pemberiannya.
Yang sebenarnya pada malam ini setelah melakoni segala rutinitas hari ini aku ingin segera mendekam di peraduanku. Namun entah mengapa, ada membisikkan untuk aku menuliskan sebuah cerita. Bukan cerita tentang siapa-siapa. Cerita tentang apa yang pernah ku alami sendiri.
Malam makin larut, sebaiknya segera ku mulai untuk menuliskannya. Semoga berkah, dan dapat menjadi teman menyusuri malam pembaca sekalian.
Aamiin.

Sabtu, 11 April 2015

aSurat Cinta, Untuk Sahabatku



Surat cinta, untuk sahabatku.
Diusia kita yang sudah merangkak sedikit demi sedikit ke kepala 3 ini. Sudah saatnya aku menekankan nasehat ini untuk aku sendiri dan kepada sahabat aku yang teramat aku sayangi, yaitu si Catur dan kang Dodo untuk sedikit memilah waktu.
Jujur ini aku tulis karena keprihatinan aku yang mendalam terhadap rutinitas yang terlalu menguras waktu kita. Yang mengakibatkan banyak sekali waktu yang terbuang untuk satu rutinitas saja. Hingga lenyap apa-apa yang sebetulnya juga perlu dipikirkan kelak.
Aku tekankan sejak awal pula, disini aku membahas secara manusiawi. Bukan sok jadi ustadz atau sok agamis. Karena itu masih keduwuren bro! Yang ringan ringan dulu aja dah.
-------

Kamis, 09 April 2015

Masih Belajar Juga




Aku memang sangat menyukai bila duduk termenung di malam yang senantiasa menorehkan kesunyian. Begitu kelam. Serasa mati. Dengan secangkir kopi dan beberapa batang lintingan tembakau, telah siap aku bercinta dengan suasana sunyi malam.
Saat kuhisap dalam-dalam lintingan tembakau, sejenak aku teringat keluhnya di kolong chat facebook, “Ya, saat kamu menceritakan tentang kita. Mungkin aku hanya bisa memutar video di ingatanku dan tersenyum karenanya, belum bisa mengungkapkan dengan indah seperti tulisanmu itu.”
Ah, masih saja dia pikirkan hal itu. Aku pun sebetulnya juga masih belajar. Kalau di sekolah, mungkin aku masih duduk di kelas 1 SD. Belajar mengenal abjad dan belajar mengeja kata. Keinginanku untuk bisa menulis lebih baik dari ini begitu besar. Mungkin itu yang menyebabkan guru imajinasiku menaikkan aku ke kelas 4. Belajar tentang membuat kalimat yang hidup. Lengkap dengan S, P, O, K-nya. Bukan frase. Frase itu menjemukan. Berkata tanpa kejelasan. Itu frase. Namun kalau untuk penegas suasana halal digunakan.
Ya, sedikit demi sedikit. Asal istiqomah. Bismillah.

Rabu, 01 April 2015

Sampai Saat Pertemuan Diatur




Aku dengar dari senandung angin malam dan gemericik air hujan, "Oh rasa cinta, bersabarlah, menantinya". Adakah itu pesanmu, kekasih?
Aku dengungkan ditelingaku, "rindu bukanlah hal yang mudah luntur. Inshomia abadi menimpanya. Dia enggan menutup mata. Selamanya. Sampai saat pertemuan diatur, beginilah adanya rindu. Kepadamu kekasih. Kepadamu."
Seharusnya para pujangga membuat satu kata baru lagi. Yang bisa menjelaskan benar-benar tentang perasaanku saat ini. Satu kata diatas kata sayang. Yang lebih dari kata cinta. Karena kata cinta saja, belum mampu menerjemahkan apa yang ada didalam hati ini.
Bisakah? Ah, aku pun tak tahu.

Jumat, 27 Maret 2015

OK DEAL, KE KEBUN TEH



Malam tanggal 29 Desember 2012, saat hujan dengan istiqomahnya membasahi bumi. Suara gemericik air yang begitu berisik mengusik ketenangan desa. Saat orang-orang memilih ndekem di rumah masing-masing. Tapi tidak untukku.
Aku tengah duduk santai menikmati bekunya udara dengan segelas kopi hitam dan memegang sebatang rokok di sela-sela jari.
Tiba-tiba dering ringtone nokia merangsak masuk ketelingaku. Kuangkat dengan santai handphone-ku tanpa melihat siapa yang menelpon.
“Halo, Assalamu’alaikum,” tanyaku sambil menghembuskan kuat-kuat asap tembakau untuk mengusir bekunya udara.
“Wa’alaikumsalam,” jawabnya begitu lembut, “Gimana besuk? Jadi ke kebun teh Kemuning?”
Aku kenal betul suara ini. Seorang gadis desa sebelah yang dulunya langsing. Dulu. Catat, itu dulu. Kalau sekarang mah montox.  Yang memiliki senyum khas yang tak dimiliki wanita lainnya.
“Kalau kamu ndak capek, ayo,” jawabku.
Sengaja aku menanyakan hal itu, karena perjalanan Jakarta – Sukoharjo itu bukan jarak yang selangkah dua langkah sampai. Butuh waktu sekitar 12-13 jam perjalanan kalau menaiki bus dan sekitar 8 jam perjalanan kalau dengan kereta api. Waktu segitu cukuplah untuk meneposkan bokong. Kalau mabur mah hanya butuh 1 jam. Sayang dia milih nitih kereta api.

Rabu, 25 Maret 2015

Sisilainman Senyuman



Senyuman itu menyejukkan. Cara kerjanya mirip seperti doa. Itulah ekspresi kebahagiaan atau haru mendalam dari hati yang memanjat keluar lewat bibir. Sumringah mulai menjamah ke setiap jengkal wajah. Kadang kala air mata itu merangkak keluar menjadi pelengkap keyakinan akan bahagianya hati.
Tanpa kata. Tanpa suara. Segala kebaikan doa terpanjatkan kepada yang diberi senyuman. Tulus dan ikhlas. Bahkan, doa dengan basahan air mata tak mampu menandingi kemustajaban doa dengan senyuman. Karena senyuman tak membawa embel-embel ingin didengar ataupun dibalas. Senyuman adalah keikhlasan tingkat tinggi yang dianugrahkan Tuhan kepada setiap insan manusia. Ialah perbuatan yang tak bisa dibuat-buat. Karena ia adalah anugrah Maha Agung. Yang setiap orang ingin bisa melakukannya ataupun ingin mendapatkannya. Terutama dari yang dicintainya.
-------

Selasa, 17 Maret 2015

Keindahan, Kebahagiaan dan Syukur



Dunia memang diselimuti berjuta keindahan oleh Tuhan. Gunanya untuk manusia memikirkan untuk apakah keindahan itu diciptakan.  Untuk lebih mengenal Tuhankah? Atau hanya untuk diambil manfaatnya saja, lalu dengan arogannya melupakan Tuhan? Nah itu tinggal apa yang ada dalam niat individukan?
Tapi pikirkan begini. Bila sudah ada yang lebih indah berjuta kali dari keindahan itu disandingnya, dan berdua menyatu menjadi keindahan itu sendiri, apakah ada waktu yang mengalihkan perhatiannya? Kita sudah menjadi keindahan itu lho. Lirikkan itu hanya sebatas lirikkan sejenak, dan seketika kembali kepada keindahan atas dirinya sendiri. Telah nyaman dengan keadaan begini. Memuji kebesaran Tuhan yang telah menciptakan suasana hati yang dapat merasakan beginilah keindahan sendiri. Kita melihat berbagai keindahan, namun cipatakanlah keindahan itu sendiri, bukan terpaku keindahan orang lain.

Senin, 16 Maret 2015

Percikan Isi Hati #1



Aku pun pada setiap malamnya. Ketika bersujud kepadaNya. Memohon agar ditunjukkan benar-benar, apakah cinta murni itu sebenarnya? Lewat doa, buku, artikel dan pelajaran pengalaman kucari benar-benar. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menunjukkannya. Hingga pada suatu saat aku menemukan sedikit yang menerangkan tentang cinta murni itu. Ditulis oleh Ulama Besar Indonesia tempo dulu. Buya Hamka, dalam novel legendaris yang berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

Sabtu, 07 Februari 2015

SEKELUMIT TENTANG KOPI




Hukum asal ngopi adalah halal,namun bisa berubah sesuai tujuannya. apabila ngopi dgn tujuan dapat membantu melakukan ibadah maka hukumnya sunah.jika tujuannya dapat membantu melakukan perkara mubah maka hukumnya mubah/boleh.jka tujuannya unt membantu melakukan perkara makruh maka hukumnya makruh.dan bila dgn tujuan unt membantu melakukan perkara harom maka hukumnya harom.