Rabu, 08 Oktober 2014

GULA

Hari ini, Selasa 7 Oktober 2014 tepat pukul 23.44 WIB, sepulang dari Futsal brsama kawan-kawan aku menyempatkan diri untuk ke warnet tempat kawanku bekerja, untuk menorehkan isi Cerita Malam beberapa hari lalu yang belum sempat aku tuliskan dalam blog ini, sebenarnya masih banyak Cerita malam yang berserakan di buku catatanku. Mungkin waktu waktu yang akan datang, InSyaa Allah.

Disebuah malam tanggal 2 Oktober 2014, tepat jam 23.05 setelah mendengarkan kajian Al Hikam dari Radio tua coklat peninggalan Alm. Kakek aku mulai menuliskan cerita ini. Cerita dari sebuah pemikiran dari insan faqir ilmu. Sembari meracik kopi dalam sebuah cangkir bergambar kodok, satu persatu bahan penikmat minuman geli pahit itu aku satukan. Gula, yah gula butiran kecil kecil putih yang sanggup memaniskan hitam kelam kopi dalam seduhan air panas. Yang sanggup memaniskan jenis makanan atau minuman apapun sesuai selera.

Minggu, 05 Oktober 2014

Kutipan Surat Majnun terhadap Laila

“Duhai Tuhan, pengetahuan-Mu meliputi segala sesuatu: Kau mengetahui apa yg tampak dan apa yg tersembunyi, karena Kau telah menciptakan bebatuan maupun intan berharga yg terjebak di dalamnya. Milik-Mulah apa-apa yg ada di langit beserta bintang-bintangnya. Kau menggabungkan malam ke dalam siang, dan siang ke dalam malam. Rahasia dan misteri yg tersembunyi di dalam hati manusia terbuka pada-Mu, karena tidak ada satupun yg lepas dari penglihatan-Mu. Kau menyebabkan getah tumbuh-tumbuhan mengalir pada hari-hari penuh kebahagiaan di musim semi; Kau menyebabkan darah mengalir melalui nadi kami hingga hari kematian kami. Dan Kau adalah Dia yg mendengar do’a dari mereka yg membutuhkan ketika mereka berpaling kepada-Mu.”

” Aku menulis surat ini sebagai orang yg telah meninggalkan semua ikatan dengan dunia ini, sebagai orang yg takdirnya sekarang terletak ditanganmu, sebagai orang yg darahnya adalah milikmu untuk kau jual semurah yg kau kehendaki.

Rabu, 01 Oktober 2014

Biografi Al Musnid Al Hafizh Al Habib Umar bin Muhammad bin Hafidh

Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz Ia dilahirkan pada hari senin, 27 Mei 1963 M [Kalender Hijriyah: 4 Muharram 1383]. Adalah seorang ulama dunia era modern. Habib ‘Umar kini tinggal di Tarim, Yaman dimana ia mengawasi perkembangan di Dar-al Musthafa dan berbagai sekolah lain yang telah dibangun dibawah manajemen ia. Ia masih memegang peran aktif dalam dakwah agama Islam, sedemikian aktifnya sehingga ia meluangkan hampir sepanjang tahunnya mengunjungi berbagai negara di seluruh dunia demi melakukan kegiatan-kegiatan mulianya.
 

Syair Majnun #3

 
Kerabat dan handai- taulanku mencela
Karena aku telah dimabukkan oleh dia
Ayah, putera- putera paman dan bibik
Mencela dan menghardik aku
Mereka tak bisa membedakan cinta dan hawa nafsu
Nafsu mengatakan pada mereka, keluarga kami berseteru
Mereka tidak tahu, dalam cinta tak ada seteru atau sahabat
Cinta hanya mengenal kasih sayang
Tidakkah mereka mengetahui?
Kini cintaku telah terbagi
Satu belahan adalah diriku
Sedang yang lain ku berikan untuknya
Tiada tersisa selain untuk kami

Selasa, 30 September 2014

Manaqib Al-Habib Munzir bin Fuad Al-Musawwa, Sang Raja Qalbu

Sanad guru jauh lebih kuat… Hingga kini kita Ahlussunnah wal Jamaah lebih berpegang kepada silsilah guru (yaitu ia mempunyai riwayat guru-guru yang bersambung hingga Rasul saw dan kau betul-betul mengetahui bahwa ia benar-benar memanut gurunya)… kita berpedoman kepada guru-guru yang bersambung sanadnya kepada Nabi saw ataupun kita berpegang pada buku yang penulisnya mempunyai sanad guru hingga Nabi saw… Ia (sanad guru) adalah bagai rantai emas terkuat yang tak bisa diputus dunia dan akhirat, jika bergerak satu mata rantai maka bergerak seluruh mata rantai hingga ujungnya, yaitu Rasulullah saw.

Pecinta Habibana HABIB Munzir bin Fuad Al-Musawwa lahir di Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, pada hari Jum’at, 23 Februari 1973, bertepatan dengan tanggal 19 Muharram 1393H. Usai menyelesaikan sekolah lanjutan tingkat atas, ia mulai mendalami ilmu ilmu syari’ah Islam, diantaranya di Pesantren Al-Kifahi Ats-Tsaqafi, Bukit Duri, Jakarta Selatan, mengambil kursus bahasa Arab di LPBA As-Salafi, Kebon Nanas, Jakarta Timur, kemudian mondok lagi di Pesantren Al-Khairat, Bekasi Timur.

Saat di pesantren Al-Khairat itulah pertama kalinya ia bertemu Habib Umar bin Hafidz, guru utamanya dikemudian hari. Kepada sang guru, ia menekuni pelajaran selama empat tahun, yaitu di Ma’had Darul Mushthafa, Tarim Hadhramaut, Yaman Selatan.

Thole....Piye kabarmu ?


Thole....Piye kabarmu ? dak sehat to ? putuku piye wis iso opo saiki...? mantuku kepiye kok wis suwe ora telp ?
Yo mugo-mugo kabih kewarasan lan di paringi rejeksi sing lancar yo, Simbok mung iso dongake wis ora dayani koyo ndisek, sing penting anak lan putuku seneng aku melu seneng...

Sabtu, 27 September 2014

CIRI-CIRI TEMAN YANG SHOLIH DAN MANFAAT BERGAUL DENGANNYA

» Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhori & Muslim).

(*) FAEDAH ILMIYAH DARI HADITS INI:
1. Hadits ini menunjukkan Wajibnya Mencari Teman yang Baik dan Menjauhi Teman yang Jelek.
2. Teman yang Baik memiliki ciri-ciri dan sifat. Diantaranya:
» Selalu berupaya mengajakmu kepada kebaikan dan mencegah dari keburukan.

Rabu, 24 September 2014

Cara Sayyidatuna Fatimah Az Zahra Memohon Maaf Kepada Suaminya, Sayyidina Ali bin Abi Thalib


Ketaatan Sayyidatuna Fatimah Az Zahra kepada suaminya Sayyiduna Ali menyebabkan Allah subhanahu wa ta'ala mengangkat darajatnya. Sayyidatuna Fatimah Az Zahra tidak pernah mengeluh dengan kekurangan dan kemiskinan keluarga mereka. Tidak juga dia meminta-minta hingga menyusah-nyusah­kan suaminya. Meski begitu, kemiskinan tidak menghalangi Sayyidatuna Fatimah Az Zahra untuk selalu bersedekah. Dia tidak sanggup untuk kenyang sendiri apabila ada orang lain yang kelaparan. Dia tidak rela hidup senang dikala orang lain menderita. Bahkan dia tidak pernah membiarkan pengemis melangkah dari pintu rumahnya tanpa memberikan sesuatu meskipun dirinya sendiri sering kelaparan.

Manaqib Syekh Abul Hasan Ali Asy Syadzili R.A

Maulana Al Habib M. Luthfi bin Yahya Mursyid Thoriqoh Syadziliyah

Kelahiran, Nasab dan Masa Kecil Syekh Abil Hasan Asy Syadzili

Asy Syekh al Imam al Quthub al Ghouts Sayyidinasy Syarif Abil Hasan Ali asy Syadzili al Hasani bin Abdullah bin Abdul Jabbar, terlahir dari rahim sang ibu di sebuah desa bernama Ghomaroh, tidak jauh dari kota Saptah, negeri Maghrib al Aqsho atau Marokko, Afrika Utara bagian ujung paling barat, pada tahun 593 H / 1197 M. Beliau merupakan dzurriyat atau keturunan ke dua puluh dua dari junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, dengan urut-urutan sebagai berikut, asy Syekh Abil Hasan Ali asy Syadzili adalah putra dari :
1. Abdullah, bin
2. Abdul Jabbar, bin
3. Tamim, bin
4. Hurmuz, bin
5. Khotim, bin
6. Qushoyyi, bin
7. Yusuf, bin
8. Yusa', bin
9. Wardi, bin
10. Abu Baththal, bin
11. Ali, bin
12. Ahmad, bin
13. Muhammad, bin
14. 'Isa, bin
15. Idris al Mutsanna, bin
16. Umar, bin
17. Idris, bin
18. Abdullah, bin
19. Hasan al Mutsanna, bin
20. Sayyidina Hasan, bin
21. Sayyidina Ali bin Abu Thalib wa Sayyidatina Fathimah az Zahro' binti
22. Sayyidina wa habibina wa syafi'ina Muhammadin, rosulillaahi shollolloohu 'alaihi wa aalihi sallam.
 

Senin, 22 September 2014

PENGARUH TABIAT ISTRI TERHADAP CARA SUAMI MENCARI NAFKAH


 Hasan al-Bashri berkata:
"Aku datang kepada seorang pedagang kain di Mekkah untuk membeli baju, lalu si pedagang mulai memuji-muji dagangannya dan bersumpah, lalu akupun meninggalkannya dan aku katakan tidaklah layak beli dari orang semacam itu, lalu akupun beli dari pedagang lain."

2 tahun setelah itu aku berhaji dan aku bertemu lagi dengan orang itu, tapi aku tidak lagi mendengarnya memuji-muji dagangannya dan bersumpah, Lalu aku tanya kepadanya:"Bukankah engkau orang yang dulu pernah berjumpa denganku beberapa tahun lalu?"Ia menjawab : "Iya benar"Aku bertanya lagi:"Apa yang membuatmu berubah seperti sekarang? Aku tidak lagi melihatmu memuji-muji dagangan dan bersumpah!"Ia pun bercerita:"Dulu aku punya istri yang jika aku datang kepadanya dengan sedikit rizki, ia meremehkannya dan jika aku datang dengan rizki yang banyak ia menganggapnya sedikit. 

Jumat, 19 September 2014

Masalah Boncengan

Diambil dari Web Resmi Majelis Rasulullah link berikut

masalah boncengan - 2013/07/18 18:54  assalamu'alaikum ya habibana
semoga segala keindahan dan kesehatan selalu tertuju kepada habibana dengan cahaya yang berbinar binar tanpa henti sepanjang masa

maaf ya habibana jika saya mengganggu habib dengan pertanyaan ini tapi sampai sekarang saya masih bingung dengan anak majelis-majelis yang suka berbonccengan dengan yang bukan muhrim ke majelis-majelis dimanapun berada .

Selasa, 16 September 2014

Kisah Pemuda dan Sebuah Apel



Alkisah ada seorang pemuda yang ingin pergi menuntut ilmu. Di tengah perjalanan dia haus dan singgah sebentar di sungai yang airnya jernih. dia langsung mengambil air dan meminumnya. tak berapa lama kemudian dia melihat ada sebuah apel yang terbawa arus sungai, dia pun mengambilnya dan segera memakannya. setelah dia memakan segigit apel itu dia segera berkata "Astagfirullah"

Dia merasa bersalah karena telah memakan apel milik orang lain tanpa meminta izin terlebih dahulu. "Apel ini pasti punya pemiliknya, lancang sekali aku sudah memakannya. Aku harus menemui pemiliknya dan menebus apel ini".

Kau Bisa Berencana Menikah dengan Siapa Saja, Tapi Kau Tak Bisa Berencana Cintamu Untuk Siapa

Di Kufah, hiduplah seorang pemuda berparas tampan. Ia rajin beribadah dan sungguh-sungguh dalam bekerja. Ia juga termasuk salah seorang ahli zuhud. Suatu ketika, ia singgah beberapa waktu di perkampungan kaum Nukha’. Lalu tanpa sengaja ia melihat seorang wanita muda yang cantik.
Ia tertarik kepadanya. Rupanya, hal yang sama dialami wanita muda tersebut. Pemuda ini lalu mengirim utusan untuk melamar wanita muda kepada ayahnya namun sang ayah memberitahukan bahwa dia telah dijodohkan dengan anak pamannya (sepupunya). Kondisi ini membuat keduanya begitu tersiksa.
Lalu si wanita mengirim utusan kepada si pemuda ahli ibadah tersebut berisi pesan berikut ini: