Di Kufah, hiduplah seorang pemuda berparas tampan. Ia rajin beribadah dan
sungguh-sungguh dalam bekerja. Ia juga termasuk salah seorang ahli zuhud. Suatu
ketika, ia singgah beberapa waktu di perkampungan kaum Nukha’. Lalu tanpa sengaja
ia melihat seorang wanita muda yang cantik.
Ia tertarik kepadanya. Rupanya, hal yang sama dialami wanita muda tersebut.
Pemuda ini lalu mengirim utusan untuk melamar wanita muda kepada ayahnya namun sang ayah memberitahukan
bahwa dia telah dijodohkan dengan anak pamannya (sepupunya). Kondisi ini
membuat keduanya begitu tersiksa.
Lalu si wanita mengirim utusan kepada si
pemuda ahli ibadah tersebut berisi pesan berikut ini:













