Untaian hikmah pertama:
بسطك كى لايبقيك مع القبض وقبضك كى لايتركك مع البسط وأخرجك عنهما كى لاتكون لشيء دونه
“Dia memberimu kelapangan
agar engkau tidak terus berada dalam kesempitan. Sebaliknya, Dia
memberimu kesempitan agar tidak terus berada dalam kelapangan. Lalu Dia
mengeluarkanmu dari keduanya agar tidak tergantung kepada selain-Nya”
Dia sengaja menghadirkan dua keadaan
silih berganti dalam diri manusia yaitu dengan diberikan kelapangan dan
kesempitan. Allah Swt ingin membuat manusia sadar bahwa ada Dia yang
mengatur hidup. Pada saat bahagia, Allah Swt hadir dengan sentuhan
kelapangan dan sebaliknya pada saat sedih, Allah Swt menyentuh dengan
kesempitan. Ini berkaitan dengan sifat Jalaliah dan Jamaliah-Nya, maka
sebagai manusia seyogyanya belajar dari dua keadaan itu. Orang yang cerdas tidak akanmenjadikan selain-Nya sebagai pusat perhatian, tidak peduli lapang dan sempit, hatinya tetap kepada sang Pemilik.
Apa hubungan untaian hikmah tersebut
dengan perilaku Hakim? Tentu saja ada hubungannya. Hakim sebagai “wakil
Tuhan” di muka bumi dalam menegakkan hukum-hukum-Nya, juga tidak
terlepas dari kodratnya sebagai manusia biasa. sebagai penegak hukum,
seorang hakim dituntut menyelenggarakan peradilan dengan bersih,
professional, jujur, dan adil. Sebaliknya, sebagai manusia, dia juga
tidak terlepas dari dua keadaan – sempit dan lapang – yang merupakan
ujian dalam melaksanakan tugasnya sebagai hakim.













