Jumat, 04 April 2014

BIOGRAFI PENGARANG KITAB AL-HIKAM

KITAB AL HIKAM
 BIOGRAFI PENGARANG KITAB AL-HIKAM 
SYAIKH IBNU ATHO'ILAH AS SAKANDARY

Kelahiran dan keluarganya
Pengarang kitab al-Hikam yang cukup populer di negeri kita ini adalah Tajuddin, Abu al-Fadl, Ahmad bin Muhammad bin Abd al-Karim bin Athoillah al-Sakandari al-Judzami al-Maliki al-Syadzili. Ia berasal dari bangsa Arab. Nenek moyangnya berasal dari Judzam yaitu salah satu Kabilah Kahlan yang berujung pada Bani Yastrib bin Qohton, bangsa Arab yang terkenal dengan Arab al-Aribah. Kota Iskandariah merupakan kota kelahiran sufi besar ini. Suatu tempat di mana keluarganya tinggal dan kakeknya mengajar. Kendatipun namanya hingga kini demikian harum, namun kapan sufi agung ini dilahirkan tidak ada catatan yang tegas. Dengan menelisik jalan hidupnya DR. Taftazani bisa menengarai bahwa ia dilahirkan sekitar tahun 658 sampai 679 H.

Kajian Kitab Al Hikam Syaikh Ibnu 'Athailah asy-Syakandary (Mp3 Seri 1 - 99)


Silahkan klik saja link Kajian Kitab Al Hikam Bersama KH Imron Jamil yang terbagi dalam 99 file mp3

Pengajian kitab “Al-Hikam” adalah pengajian yang bersifat umum dalam artian ditujukan untuk masyarakat luas sebagai sarana untuk menambah serta memperdalam pemahaman masyarakat tentang Agama Islam khusunya ilmu tasawuf. Dinamakan pengajian kitab “Al-Hikam” karena pengajian ini menggunakan kitab “Al-Hikam” yang merupakan salah satu kitab yang termasyhur dalam bidang tasawuf yang dikarang oleh Ibnu ‘Athailah asy-Syakandary.

Rabu, 02 April 2014

Wasiat Nasehat Habib Luthi bin Yahya: Rahasia di Balik Shalawatnya Allah Swt. kepada Rasulullah SAW

Muslimedianews ~ Rais Am Jam’iyah Ahlut Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah, sekaligus ketua umum thariqah sufi sedunia, Maulana al-Habib M. Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya Pekalongan, menjelaskan perihal rahasia di balik bacaan shalawat Allah kepada nabiNya.

Nasihat Bagi Suami dari Maulana al-Habib M. Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya


Assalamu’alaikum wr wb
Yang terhormat Habib Luthfi Bin Yahya, saya adalah kepala rumah tangga yang belum bisa menafkahi istri dan anak-anak dengan baik. Menafkahi disini dalam arti lahir dan bathin, karena istri saya bekerja d iluar kota.
Beberapa kali saya bekerja, keluar masuk perusahaan. Tidak ada yang bertahan lama. Setelah beberapa kali introspeksi diri dan minta nasihat Kyai, saya memutuskan mendalami agama, memperbanyak ibadah dan lebih banyak mengikuti majelis Taklim. Sedangkan dalam urusan bekerja, sampai sekarang saya belum bekerja, tapi tetap berusaha mencarinya.
Saya berpendapat kalau saat ini saya lebih banyak beribadah, itu artinya saya sedang bekerja untuk Allah dan Allah yang akan menggaji saya, mencukupi kebutuhan hidup saya. Ahamdulillah rumah tangga saya harmonis.
Habibi, tolong nasehati dan bimbing saya agar saya bisa menjadi suami yang bisa diandalkan keluarga saya, yang bisa menjadi pelindung, pengayom dan bisa bertangung jawab terhadap kebutuhan rumah tangga saya.
Wassalamu’alaikum Wr Wb

Menyikapi Pujian Makhluk


Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary : “Semesta ciptaan ini ada karena ketetapan dariNya, dan terhapus oleh Kemaha-Esaan DzatNya.”

Syeikh Zarruq mengatakan, “Bila anda memandang makhluk dari dimensi penetapan oleh Allah Ta’ala pada mereka, maka anda melihat makhluk sebagai wujud.
Namun bila anda melihat mereka dari segi bahwa mereka adalah makhluk yang sangat butuh, sangat kurang dan tidak merdeka, maka anda telah memandang mereka sebagai wujud ketiadaan.
Dalam kitabnya At-Tanwir, Ibnu Athaillah menegaskan, “Ulasan yang rinci dalam konteks ini adalah, bahwa makhluk itu memang ada, dan dari segi yang tersembunyi dibalik makhluk menimbulkan musyahadah kepadaNya. Kemudian Allah swt menetapkan makhluk dari sisi yang ditetapkanNya melalui hikmah-hikmahNya, dan hikmah-hikmah itu tidak bersandar pada pengetahuan anda.”

Sabtu, 29 Maret 2014

Memandang Yang Tersembunyi


“Allah Ta’ala menampakkan pada segalanya, karena Dia adalah Maha Batin. Dan Dia meliputi segalanya, karena Dia adalah Maha Dzohir (Maha Nyata Jelas).”

Tidak bisa wushul (sampai) mengenalNya kecuali melalui yang tampak dariNya, karena yang tampak itu menunjukkan atas DiriNya. Namun segala sesuatu menjadi sirna jika Dia Tampak, karena WujudNya mengapus segalanya dan ketidak bebasan atas AdaNya.

Maka, hikmah dibalik tampaknya sang makhluk, adalah wujud pengenalan ma’rifat padaNya, selain meraih kema’rifatan karena sirnanya sang makhluk. Maka Maha Sucilah Yang Maha Tampak dan Maha Batin nan Maha Mengetahui.

Jumat, 28 Maret 2014

PESAN HABIB ANIS bin ALWI bin Ali Al Habsyi

 
Habib Anis bin Alwi bin Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyi rahimahumullah

"Dulu waktu saya mengaji, setiap saya menanyakan suatu masalah kepada guru saya, jawabannya juga selalu: 'cari di kitab ini, cari di kitab itu'. Ketahuilah, wahai Novel, tidak disebut orang alim kalau setiap mendapat pertanyaan ia selalu menjawab: 'menurut saya begini begini ...', tetapi orang alim adalah orang yang mampu menjawab suatu permasalahan dengan menukil pendapat para ulama salaf lengkap dengan kitab rujukannya." [Pesan almarhum Habib Anis bin 'Alwi bin 'Ali al-Habsyi kepada Ustadz Naufal bin Muhammad al-'Aydrus].

NASEHAT UNTUK PARA ISTRI ~ KH. Yusuf Mansur

KH Yusuf Mansur

NASEHAT UNTUK PARA ISTRI .....

Berdandanlah untuk suamimu -harapkanlah pahala dari Allah di waktu anda berdandan itu, karena Allah itu Indah dan mencintai keindahan- pakailah parfum, dan bermake up-lah, serta pakailah busana yang paling indah untuk menyambut suamimu. Jauhi dan jauhilah bermuka asam dan cemberut.

Janganlah anda mendengar dan menghiraukan perusak dan pengacau yang akan merusak dan mengacaukan keharmonisanmu dengan suami. Janganlah selalu tampak sedih dan gelisah, akan tetapi berlindunglah kepada Allah dari rasa gelisah, sedih, malas dan lemah. Janganlah berbicara terhadap laki-laki lain dengan lemah-lambut, sehingga menyebabkan orang yang di hatinya ada penyakit mendekatimu dan mengira hal-hal yang jelek terhadap dirimu.

Jebakan Imajinasi Semu


 Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary
“Tak  satupun wujud yang bisa menutupi Allah, karena sesungguhnya tidak satu pun yang menyertaiNya. Bahwa sesungguhnya anda tertutup dari Allah disebabkan oleh  imajinasi (seakan) ada wujud yang menyertaiNya.” “Tak  satupun wujud yang bisa menutupi Allah, karena sesungguhnya tidak satu pun yang menyertaiNya. Bahwa sesungguhnya anda tertutup dari Allah disebabkan oleh  imajinasi (seakan) ada wujud yang menyertaiNya.”

Adanya imajinasi wujud selain Allah membuat anda lebih sibuk dengan wujud semu itu, berupa dunia seisinya dengan segala masalahnya, secara tidak langsung maupun langsung, anda telah terjebak seakan-akan wujud semu itu yang mengancam dan memberi manfaat bagi kehidupan anda, sehingga anda pun terhijab dari Allah azza wa-Jalla.

Kamis, 27 Maret 2014

Atas Nama Cinta, Karena Aku adalah Suamimu ( Teks & Mp3 )


Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.
Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Siapakah Sahabat Sejati?


 Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary.
“Tak ada sahabat sejatimu kecuali dia yang paling tahu aibmu, dan tidak ada (sahabat seperti itu) kecuali Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Sebaik-baik sahabatmu adalah yang  menuntutmu, tetapi sama sekali tuntutan itu tidak ada kepentingannya darimu untuk-nya.”

Tak ada yang lebih tahu aib kita secara detil dan rinci melainkan Allah swt, karena Dia-lah yang tak pernah meninggalkan anda ketika anda dalam kondisi hina dan tidak menolak anda ketika anda dalam kondisi sangat kurang, bahkan senantiasa mengasihi anda dalam situasi apa pun.
Pada saat begitu Dia memerintahkan anda dan melarang anda, namun anda maksiat pada-Nya, namun Dia tidak meninggalkan anda, bahkan dengan rasa belas kasih-Nya Dia memanggilmu untuk datang kepada-Nya di saat anda alpa.

Rabu, 26 Maret 2014

Dua Tirai

Sufi Music

Syekh Ibnu Athoillah as-Sakandary
“Tirai itu terbagi dua; Tirai dari maksiat, dan tirai di dalam maksiat. Umumnya orang mencari tirai dari Allah Ta’ala, agar tertirai di dalam maksiat, karena takut martabatnya jatuh di mata publik. Sedangkan kalangan khusus mencari tirai dari maksiat, karena takut bila gugur dari pandangan Sang Maha Diraja Al-Haq.”

Orang yang bermaksiat kebanyakan ingin tertutup dari makhluk, bisa karena malu, atau karena gengsi ataupun karena takut harga dirinya jatuh. Tirai atau tutup itu disebut sebagai tutup di “dalam maksiat”. Bagi kalangan ini, tutup di dalam maksiat berarti tidak memandang Allah swt, namun lebih memandang kepentingan derajat makhluk atau harga diri kemakhlukan.

Sabtu, 22 Maret 2014

Kenapa Amalan di Terima ?

“Kalau bukan karena indahnya tutupnya Allah swt, maka tak satu pun amal diterima.”Kenapa demikian? Sebab nafsu manusia senantiasa kontra dengan kebajikan, oleh sebab itu jika mempekerjakan nafsu, haruslah dikekang dari sifat atau karakter aslinya."

Dalam firmanNya: “Siapa yang yang menjaga nafsunya, maka mereka itulah orang-orang yang menang dan bahagia.”(Al-Hasyr 9)
Nafsu, ketika masuk dalam kinerja amaliah, sedangkan nafsu itu dasarnya adalah cacat, maka yang terproduksi nafsu dalam beramal senantiasa cacat pula. Kalau toh dinilai sempurna, nafsu masih terus meminta imbal balik, dan menginginkan tujuan tertentu, sedangkan amal itu inginnya malah ikhlas. Jadi seandainya sebuah amal diterima semata-mata bukan karena amal ansikh, tetapi karena karunia Allah Ta’ala pada hambaNya, bukan karena amalnya.