“Kalau bukan karena indahnya tutupnya Allah swt, maka tak satu pun
amal diterima.”Kenapa demikian? Sebab nafsu manusia senantiasa kontra
dengan kebajikan, oleh sebab itu jika mempekerjakan nafsu, haruslah
dikekang dari sifat atau karakter aslinya."
Dalam firmanNya: “Siapa yang yang menjaga nafsunya, maka mereka itulah orang-orang yang menang dan bahagia.”(Al-Hasyr 9)
Nafsu, ketika masuk dalam kinerja amaliah, sedangkan nafsu itu
dasarnya adalah cacat, maka yang terproduksi nafsu dalam beramal
senantiasa cacat pula. Kalau toh dinilai sempurna, nafsu masih terus
meminta imbal balik, dan menginginkan tujuan tertentu, sedangkan amal
itu inginnya malah ikhlas. Jadi seandainya sebuah amal diterima
semata-mata bukan karena amal ansikh, tetapi karena karunia Allah Ta’ala
pada hambaNya, bukan karena amalnya.










