Sabtu, 20 Februari 2016

Perkumpulan Kami

Kami hanya sedang berikhtiar menjadi orang hidup yang menghidupi kehidupan dengan  tuntas menjalaninya, merenunginya, menghayatinya, mengisinya dan menertawakannya.
Telah banyak hal sia-sia yang kami lakukan. Terlalu banyak. Sangat banyak. Sudah saatnya kami bergabung dengan para pengarung gelombang sejarah yang sudah fajar ini dalam sebuah bahtera.
“Di langit bermunculan misbah-misbah pelempar setan. Matahari dan bulan saling songsong untuk berpelukan, hampir berpelukan.”
“Di bumi, anjing-anjing menjulur-julurkan lidahnya. Binatang-binatang bertubuh manusia ramai bernyanyi di Masjid, Gereja dan diskotek agar mereka berganti kepala manusia. Mereka menolak kecuali sedikit. Dan kebanyakan orang benci kebenaran. (Q.S. Az Zukhruf [43]:8)

Kini kami berbaris di belakang cah angon yang akan menek blimbing kuwi, ndondomi, njlumati, pakaian kami yang telah terlalu lama tercabik-cabik kesyirikan dan kezaliman diri sendiri.
Karena kini, di era yang penuh megah ria ini, nubuat Kanjeng Nabi Muhammad SAW telah genap rasanya, “Sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini sesuatu yang dicuekin. (Q.S. Al Furqan [25]: 30)”
Hari semakin kehilangan keelokkannya. Waktu bermain-main telah di ujung usia, memantapkan diri untuk menjadi apa harusnya sudah terpahat nyata dalam kening ini sebelum renta.
Terus belajar, tetap belajar. Memulai dari tak pernah memandang kecil kepada setiap sesuatu hal. Baik atau buruk. Banyak atau sedikit. Semua disama ratakan kepada sesuatu yang berasal dari Tuhan.
Hingga kini, kami menemukan ilmu, kesejatian, cinta, kebahagiaan dan Allah cukup hanya dengan memandang giginya tatkala bercermin yang membuat kami bersyukur bahwa Allah mengambil keputusan untuk tidak membiarkan gigi terus tumbuh.
Kami ini sebenarnya fakir dan sangat lemah. Sehingga semua pujian apapun yang melekat pada kami sebenarnya tidak patut blas kami nikmati dan tidak usah kami cari-cari. Biarlah yang menikmati pujian dan segala sanjungan itu yang empunya sendiri, yaitu Allah SWT. Bahkan kewajiban kami adalah juga ikut memuji dan menyanjung Dia karena Dita telah melekatkan hal itu kepada kami.
Kami bukan penulis, dan sudah tidak mempunyai daya gigih untuk mewujudkan label penulis di diri kami. Kami bukan pengarang, apalagi orang yang kerjaannya mengarang-ngarang, mereka-reka.
Kami menuliskan sesuatu dalam rangka menulis itu sendiri, tak penting substansi dan kenyatan nilainya, tak penting kami memiliki akar pengalaman atas yang kami tulis atau tidak.
Kami bukan pengarang, bukan penulis. Tulisan hanyalah sebuah output tak sengaja dari laku perjalanan nilai kami.
Kami berkumpul, diperkumpulan kami tidak ada struktur guru dan murid. Sebab, dua kata itu sejarahnya karut-marut. Guru dari peradaban Hindia, murid dari Arab Islam. Jadi, sebagai wacana juga membingungkan dan tidak tercapai harmoni keilmuan.
Dalam perkumpulan kami, semua adalah murid, orang yang menghendaki –dalam hal ini menghendaki ilmu-. Jadi, semua dari kami adalah murid.

19 Februari 2016
Categories:

0 komentar:

Posting Komentar